Tampilkan postingan dengan label Setengah Baya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Setengah Baya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2015

Memek Mak Acah Pembantuku

Ini adalah ceritaku saat pertama kali mengenal sex dan berhubungan dengan wanita, kebetulan wanita tersebut berusia jauh lebih tua dari usiaku bahkan dari usia ibuku. Karena pengalaman pertama kali mendapat kenikmatan hubungan seksual dengan wanita berumur telah membentuk aku menjadi laki-laki yang Oedipus complex atau menyukai wanita yang berusia jauh diatas aku. Kisah selengkapnya berikut ini….
Saat itu aku berusia sekitar 14-15 tahun dan duduk di bangku SMP di akhir dekade 80’an (ah jadi ketauan kalau aku sekarang udah tuir), o iya perkenalkan namaku Anto (samaran) tinggal di komplek perumahan di pinggiran Jakarta. Aku adalah anak tunggal, sedangkan kedua orang tuaku bekerja di Jakarta.

MAK ACAH
Sehari-hari aku ditemani tukang cuci atau pembantu yang pulang hari bernama Mak Acah berperawakan tinggi semampai sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok.
Kutaksir usianya sekitar 59-60an, seorang janda yang memiliki satu orang anak perempuan bernama mpok Marni yang juga sudah memiliki anak perempuan yang usianya dua tahun diatas aku dari perkawinannya dengan bang Uci sopir Bajaj di Tenabang. Berawal dari kebiasaan menonton film porno sepulang di rumah sahabatku Panji membuat aku seringkali menuntaskan dengan beronani sesampainya dirumah. Siang itu sepulang sekolah dan menonton film porno aku tergesa-gesa pulang ke rumah dengan maksud hendak segera menuntaskan hasrat seksualku dengan onani. Kudapati mak Acah sedang mencuci baju kami di kamar mandi (kebetulan kami hanya memiliki satu kamar mandi). Aku merasa tidak sabar jika harus menunggu mak Acah selesai mencuci, maka aku pura-pura mau buang air supaya mak Acah keluar dahulu dari kamar mandi. Akupun segera menuntaskan hasratku dengan onani sambil melihat kartu remi bergambar wanita telanjang, setelah hajatku tuntas mak Acah kembali masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan mencuci baju. Aku sedang mendengarkan radio saat mak Acah masuk ke kamarku lalu duduk di tempat tidurku sambil berkata
MA:“Anto kamu tadi ngocok di kamar mandi ya ?”. Aku kaget dan malu mendapat petanyaan yang tiba-tiba seperti itu.Aku: ..eng.. iya mak, kok emak tau ? (sambil mukaku merah karena malu).MA: iya orang pejuh kamu tadi masih licin di kamar mandi. Mak perahatiin kamu kalau pulang sekolah mesti neloco, ngga bagus tau…. Bisa ngerusk mata kamu.Aku: masa sih mak ? (penuh rasa ingin tahu dan ketakutan).  MA: ngeloco itu ngeluarin pejuh yang dipaksa’in, pas kamu keluar pasti kamu merem. Itu yang bikin nanti mata kamu rusak. (..waduh bener juga nih dalam hati, padahal itu cuma tipu2 dia aja…).  Aku: masa sih mak ?  MA: masa, masa, kalo dibilangin (dengan logat betawi kentalnya), kalo mau ngeluarin pejuh entu kudu bari megang atawa ngeliat punyanya perempuan To…., sini emak ajarin kamu….
(sambil nyuruh aku duduk di tempat tidur). Aku hanya pasrah karena malu, takut dan rasa ingin tahu campur aduk jadi satu. Setelah aku duduk dan membuka celana pendek biruku, mak Acah menyodorkan teteknya yang besar kemukaku sambil tangannya mengelus-ngelus si otong.  
MA: ..pegang…., terus isep tetek emak, nih pegang juga memek emak ya.
Akupun menuruti perintahnya dengan hati girang karena baru kali itu melihat dan meraba langsung organ intim wanita. Dalam hitungan detik si otong yang belum lama baru lemes sudah tegang lagi saking senengnya.
"Iyaa… maenin pentil emak pake lidah kamu, terus colok-colok memek emak…" katanya.
Sekitar 3 menit memainkan memek dan teteknya, Mak Acah menyuruh aku tiduran.  
MA: kamu tiduran deh punya kamu udah keras banget, emak ajarin cara yang bener ngeluarin pejuhnya..
Akupun menuruti saja apa yang diperintahkannya sambil tidak lama mak Acah menduduki kemaluan dengan terlebih dahulu memasukan kemaluan remajaku yang tidak seberapa besar (maklum, saat itu aku masih ABG).
Rasanya nikmat bagai di awang-awang, jauh lebih licin dan hangat ketimbang kalau aku onani dengan menggunakan sabun. Sekitar sepuluh kali mak Acah naik turun diatas kontolku, kontolkupun muntah. Maklum saja ini adalah pengalaman pertamaku. Mak Acah segera mengelap kontolku dari sisa lendir sperma yang bercampur cairan kemauannya dengan celana dalam yang rupanya sudah sedari tadi dikantungi di saku daster lusuhnya.
“Enak kan ?” ujarnya.
"Iya mak", jawabku.
Besok-besok lagi kalau kamu pengen mending ngomong aja sama emak, biar emak bantuin ya…
Aku pun mengangguk sambil bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dari lendir yang masih terasa lengket di sekitar kemaluannku.
Beres menuntaskan hasrat, aku tertidur karena lemas akibat dua kali mengeluarkan sperma dalam waktu tidak lebih dari setengah jam.
Ada perasaan lega, puas dan penyesalan yang amat sangat karena aku sadar telah melakukan perbuatan tersebut.
Mak Acah melanjutkan membereskan rumah dan memasak untuk makan malam keluarga kami.
Esoknya, sepulang sekolah sengaja aku tidak mampir untuk menonton film porno di rumah Panji.
Pikirku aku tidak mau mengulangi pebuatan dosa yang teramat besar seperti hari kemarinnya.
Di rumah aku melihat Mak Acah sedang memcuci baju, sedangkan aku segera tidur setelah sebelumya makan dan mengganti baju putihku dengan kaus.
Hari ini tidak terjadi apa-apa, syukurlah dalam hatiku. Hari berikutnya (kebetulan hari Jum’at), aku tidak dapat menghilangkan keinginank untuk bisa berhubungan kembali dengan Mak Acah.
Di sekolahpun sulit sekali aku berkonsentrasi dari membayangkan tetek besar mak Acah dan memek tuanya yang rimbun. Aku berniat ingin segera tiba di rumah. Segera setelah jam belajar berakhir aku pulang dan kudapati rumahku masih terkunci. Memang biasanya Mak Acah datang ke rumahku sekitar pukul satu siang. Aku urung masuk tapi berbalik ke rumah Mak Acah yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari kediamanku dengan alasan pinjam kunci, aku bilang kunciku lupa tertinggal di dalam rumah. Setelah aku bicara setengah berbisik rupanya Mak Acah mengerti kalau aku sedang kebelet ingin berhubungan badan, sambil memberikan kunci rumah yang biasa dipegangnya,
dia bilang: “ ya udah nih kucinya emak juga sebentar lagi ke sono, nyelesein goreng kerupuk dulu ya…”. Aku menanti dengan gelisah kedatangan Mak Acah. Tak lama berselang Mak Acahpun datang sambil tak lupa menguci pintu depan rumah kami.
"Udah ngebet ya To ?" tanyanya, aku mengiyakan sambil menarik mak Acah ke dalam kamar.
Hari ini penampilan Mak Acah tidak seperti biasanya, ada harum deodoran murahan di tubuhnya. Setelah aku periksa, BH dan celana dalamnyapun tidak lagi lusuh dan dekil seperti kemarin. Akupun semakin terangsang untuk segera membuka BH dan menyusu di teteknya yang besar.
"Sekarang jangan keburu-buru kaya kemaren To" ujarnya.
Aku mengangguk sekedar mengiyakan sambil tanganku sibuk ngobel-ngobel memeknya yang masih terbungkus CD.
"Hari ini emak mau ngajarin yang laen, kontol kamu pernah diisep ngga?" Tanya mak Acah.
"Kayak di filem Be-Ef ya Mak ?" kataku balik bertanya.
Mak Acah tidak menjawab, namun tangannya sibuk membuka baju seragamku hingga aku bugil.
Sesaat kemudian kurasakan kontolku yang memang sudah ngaceng sedari tadi dihisap dan dikulum oleh bibirnya. Sensasinya jauh lebih nikmat ketimbang hari kemarin, aku hanya dapat mematung merasakan permainan lidah dan bibirnya yang menghisap kemaluanku. Tak berapa lama spermaku keluar diiringi desahan nikmat dari bibirku. Mak Acah dengan telaten terus menghisap dan menjilat helm nazi si otong. Air maniku memenuhi rongga mulutnya, sebagian mungkin tertelan dan sebagian lagi dilapnya dengan seragam putihku yang berserakan di lantai. Akupun terduduk puas dan lemas tak terkirakan.
"Tuh kan, kamu buru-buru banget" ujarnya.
"Udah kebelet mak" jawabku sekenanya.
"Ya udah kamu ganti baju terus makan, emak mau ngerendemin baju kotor. Entar kalau kamu udah kepingin lagi baru kita ngewe pungkasnya".
Selesai makan dan istirahat sejenak di kamar rupanya si otong udah kepingin lagi, kupanggil si emak yang saat itu sedang menyapu teras depan. "Mak sini mak, udah kepingin lagi nih…ucapku,
 "Ah cucu emak, emang kamu ngga Jum’atan ?" tanyanya.
Aku menggeleng sambil menarik si emak untuk direbahkan diatas tempat tidur.
"Jangan-buru-buru To… emak juga kudu dipuasin" ujarnya.
Aku: "dipuasin bagemana mak ?" MA: "…nih emak ajarin…" Sambil meloloskan celana dalamnya dalam posisi terlentang diatas tempat tidurku.  MA: "emak tadi udah jilatinpunya kamu, sekarang giliran kamu jilatin memek emak ya…"
Berbekal pengalaman menonton BF dan arah si emak aku menuruti perintahnya. Mula-mula Cuma kupegang dan kucolok saja memek mak Acah, namun mak Acah memintaku untuk menjilati tonjolan daging kecl dan jengger ayam disekililng memeknya. Aku menurut, ada bau khas yang baru kali ini aku rasakan bercampur dengan wangi sabun mandi (rupanya si emak sudah mencuci bersih terlebih dahulu memeknya). Lama-lama aku terbiasa dengan aroma yang kucium dan terasa memek si emak makin basah oleh ludahku bercampur cairan kental khas organ intim wanita.
Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan si emak dengan diselingi desahan mesumnya. Kurang lebih lima menit tubuh si emak mengejang sambil tengannya mendekap kepalaku agar tetap menempel di memeknya. Rupanya si emak sudah orgasme, saat itu aku belum mengerti.
Sejurus kemudian emak meraih kontolku yang sudah mulai mengeras kembali.
Dengan telaten dia menciumi dan mengulum kontolku hingga betul-betul terasa keras.
Setelah dirasa tegang, emak mengarahkan kontolku kememeknya sambil memerintahkan aku untuk bergerak maju mudur.
Nikmatnya benar-benar sensasional walau terasa betul kalau memek si emak becek oleh lendir sisa dia orgasme.
Kali ini permainanku cukup lama hingga cukup memuaskan si emak dengan kembali orgasme berbarengan dengan mucratnya lahar panas dari kontolku.
Kami menyudahi permainan ini dengan sama-sama puas, akupun tertidur setelah memakai pakaian dan mencuci kontol sebelumnya.
Sekitar pukul setengah empat aku dibangunkan oleh emak yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan dirumahku,
"mau ngewe lagi ngga nTo ?" emak bertanya kepadaku.
Aku mengiyakan dan memulai pelajaran ngewe gaya dogy. Emak tidak mencapai orgasme, maklum aku masih cupu sehingga tidak bisa menahan nafsu.
Kata emak: "ngga apa-apa, nanti juga lama-lama aku pintar pungkasnya".
Emakpun pulang dan aku mandi dengan penuh kepuasan.
Sejak saat itu kami rutin melakukan hubungan intim.
Setidaknya seminggu empat kali kami melakukannya, kebetulan emak sudah menopause sehingga jadwal kami tidak pernah terganggu.
Tamat
09.52 | 0 komentar

Kamis, 17 Desember 2015

Nikmatnya Memek Ibu Rum,Tetanggaku yg Berjilbab

Ibu-ibu genit sekarang banyak juga yang pake jilbab, jadi inget mantan temen saya ceweknya juga pake jilbab , tapi ngeseks nya jago banget, nah untuk itu saya berharap teman-teman jangan melihat simbol agama seseorang, baiknya kita menilai pribadi orang itu, berikut salah satu pribadi ibu ibu girang boleh di bilang tante girang, tapi udah agak tua atau STW, walaupun kesehariannya memakai jilbab, ternyata dia masih gak sanggup menahan birahi, Berikut ceritanya.
“Tadi malam saya lewat rumah ibu dan mendengar suara menarik jadi saya mengintip. Ternyata, saya lihat ibu sedang mencolok-colokkan pisang ke itunya ibu sambil nyetel film BF. Saya sangat terangsang.Kalau ibu setuju, daripada pakai pisang saya juga mau dan penginbegituan dengan ibu”.
Itu kalimat yang kutulis dalam HP dan siap dikirimkan dalam bentuk SMS ke sebuah nomor HP milik Bu Ruminah, tetanggku. Namun kendati tinggal memencet tombol agar pesan terkirim, aku sempat ragu. Jangan-jangan nanti Bu Rum (demikian Bu Ruminah biasa dipanggil) ngadu ke ibuku atau ke orang-orang tentang SMS yang kukirim, begitu aku membathin. Tapi, ah nggak mungkin dia berani cerita ke ibuku atau ke orang-orang. Sebab kalau dia cerita, kebiasaannya memuaskan diri dengan buah pisang kan jadi ketahuan. Begitu pikirku lagi. Yakin Bu Rum tidak mungkin menceritakan isi SMS itu ke orang lain, akhirnya kutekan panel tanda OK pada HP-ku dan terkirimlah SMS tersebut.

IBU RUM
Hanya dalam hitungan menit, reaksi dari SMS yang kukirim langsung kudapat. HP ku berdering dan pada layar terlihat nama Bu Rum memanggil. Tetapi aku tidak berani mengangkat karena pasti ia mengenali suaraku hingga kudiamkan saja panggilannya. Setelah beberapa kali telefonnya tidak diangkat, akhirnya sebuah SMS masuk.
“Tolong jawab. Nomor siapa ini”. Demikian bunyi SMS yang dikirimnya dan memacu niatku untuk kembali mengisenginya.
“Pokoknya ibu sangat mengenal saya. Bener lho Bu, pisang saya jadi pengin banget dimasukkan ke itunya ibu seperti pisang yang ibu pegang tadi malam. Ibu pasti puas. Mau kan Bu?”. Ujarku dalam SMS yang kukirim berikutnya.
“Huussh… jangan ngawur. Saya bukan wanita begituan dan saya kan sudah tua. Tolong kejadian itu jangan diceritakan ke orang lain. Tolong banget”. Ungkapnya dalam SMS berikutnya.
Rupanya dia ketakutan kalau aku menceritakan kejadian yang sempat kupergoki itu hingga niat isengku makin menjadi.
“Beres Bu, Saya tidak akan cerita ke siapa-siapa. Tapi sungguh saya sangat terangsang saat melihat memek ibu dicolok buah pisang. Bahkan lebih merangsang dibanding memek wanita bule yang ada di film BF. Jadi soal saya kepengin begituan dengan ibu memang bener-bener lho.” Kataku lagi dalam SMS yang kukirim selanjutnya. Tetapi balasan SMS dari Bu Rum pendek saja. “Sudah ya. Saya sangat berterima kasih kejadian itu tidak diceritakan ke siapapun,” ujarnya dalam SMS yang kuterima. Setelah itu beberapa kali kukirim SMS dengan kata-kata yang lebih panas. Termasuk kesediaanku untuk menjilati memek dan itilnya bila ia mau melayaniku. Namun Karena tetap tidak dijawab maka malam itu SMS an dengan Bu Rum tidak berlanjut.
Bu Ruminah yang biasa disapa Bu Rum adalah tetanggaku. Rumahnya hanya terpaut tiga rumah dari rumahku. Suaminya Pak Kirno, adalah pensiunan TNI dan pernah menjadi Satpam sebuah bank serta menjabat Ketua RW sebelum terkena stroke dan mengalami kelumpuhan. Sementara Bu Rum di samping menjadi ketua kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan RW tempat tinggalku, ia yang pernah mengenyam pendidikan pesantren itu juga mengajari ibu-ibu mengaji termasuk ibuku yang menjadi teman dekat dan sekaligus muridnya. Aku yakin orang-orang tidak bakalan percaya kalau kuceritakan bahwa Bu Rum ternyata suka melampiaskan hasrat seksnya dengan menggunakan pisang. Betapa tidak, wanita berusia 53 tahun itu, penampilan kesehariannya sangat santun. Selalu berkerudung dan menutup rapat auratnya. Hingga orang tidak akan percaya tentang kebiasaannya yang nyeleneh dalam soal seks terlebih di usianya yang sudah tergolong tua.
Tetapi aku benar-benar melihat dengan mata dan kepalaku sendiri tentang apa yang dilakukan dia yaitu memuasi diri dengan buah pisang. Bahkan saat itu, terus terang aku sangat terangsang. Terlebih saat ia meremasi sendiri kedua teteknya yang gede dan melihat memeknya yang dipenuhi rambut tebal dicolok-colok dengan buah pisang. Karena selalu terbayang oleh bagian-bagian tubuhnya yang membuatku terangsang, akhirnya aku iseng mengirim SMS. Karena beberapa SMS ku yang terakhir tidak dibalasnya, aku nyaris nekad dengan mengancamnya bahwa bila ia tidak mau melayaniku akan kuceritakan soal masturbasi dengan pisang itu kepada orang-orang. Hanya setelah kupikir, tindakanku itu bisa membuat dia kalap atau melapor ke polisi hingga kuurungkan niatku tersebut. Hanya aku tetap bertekad untuk mengisenginya dengan berkirim SMS kepadanya di tiap kesempatan. Hampir tiap hari, terkadang pagi, siang maupun malam, beberapa SMS kukirim kepadanya. Intinya mengungkapkan keinginanku untuk menjadi patner seksnya karena setelah memergoki dia main dengan pisang aku menjadi sangat terangsang dan terpaksa sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan menyetubuhinya. Tetapi ia tetap tidak mau membalasnya. Pernah beberapa kali ia mencoba menelepon tetapi aku tidak berani mengangkatnya.
Oh ya, dari perkawinannya dengan Pak Kirno, Bu Rum hanya mempunyai satu anak Mbak Lasmi. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai beberapa anak. Mbak Lasmi tinggal di tempat lain di sebuah kecamatan terpencil karena suaminya menjadi pegawai kecamatan di sana. Jadi status Bu Rum adalah nenek dari beberapa cucu. Puncak dari keisenganku mengrim SMS kepada Bu Rum terjadi ketika pengajian ibu-ibu di kampungku yang dilaksanakan secara bergiliran jatuh ke giliran ibuku. Karena acaranya berbarengan dengan halal bi halal setelah lebaran, pengajian yang diadakan di rumahku terbilang besar. Hidangan yang biasanya cuma snack kali ini dilengkapi ketupat dan opor ayam. Juga ustazahnya yang biasanya pembicara lokal, kali ini didatangkan dari luar kota.
Sejak pagi rumahku ramai oleh ibu-ibu tetangga yang mempersiapkan acara tersebut termasuk Bu Rum. Adanya wanita itu di rumahku membuatku tidak berani mengirim SMS iseng padanya. Hanya secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri pandang menatapinya. Seperti kebiasaannya, saat itu Bu Rum memakai busana muslim dengan hiasan bordir yang apik. Yakni sebuah baju terusan warna krem yang longgar yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya dipadu dengan celana panjang warna senada. Dengan kerudung yang tak pernah lepas menutup kepalanya, wanita bertubuh tinggi besar itu nampak anggun dan berwibawa.
Acara pengajian yang dimulai selepas ashar, baru berakhir menjelang maghrib. Sekira pukul 19.30 WIB, setelah acara beres-beres rumah selesai ibu memanggilku. “Win tolong ini diantar ke rumah Bu Rum ya.Tadi ia minta disisihkan lontong dan opornya karena katanya di rumah lagi tidak masak,” ujar ibuku.
Setelah beberapa kali berkirim SMS gelap kepadanya, sebenarnya agak grogi untuk berhadapan langsung dengan Bu Rum. Terlebih mengingat kata-kata jorok dan porno serta ajakan main seks dalam setiap SMS yang kukirim. Tetapi aku juga tidak punya alasan untuk menolak perintah ibu hingga dengan terpaksa kulaksanakannya. Dua buah rantang besar berisi lontong dan opor kubawa ke rumah Bu Rum. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan menunggu agak lama, kulihat seseorang mengintip dari balik korden dan akhirnya membukakan pintu.Ternyata yang mengintip dan membukakan pintu adalah Bu Rum sendiri. “Ohkamu Win, ibu kira siapa. Ayo masuk,” ujarnya mempersilahkanku.
Bu Rum yang kalau berada di luar rumah berpakaian muslimah yang rapat,ternyata tidak begitu adanya kalau sedang di dalam rumah. Baju yang dipakainya hanya daster berbahan tipis dan tanpa lengan. Hingga BH hitam dan celana dalam putih yang dipakainya tampak menerawang. “Saya disuruh mengantarkan ini untuk Bu Rum,” kataku setelah berada di ruang tamu rumahnya. Tetapi Bu Rum tidak langsung menerima bingkisan makanan yang kusodorkan. Ia kembali membuka pintu dan keluar rumah. Setelah sesaat melihat sekeliling, ia kembali masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia juga mengajakku ke dalam, ke ruang tengah rumahnya. “Taruh saja bawaannya di meja Win. Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu,” katanya pelan.
Deg! Serasa berhenti detak jantungku. Pasti ia sudah tahu kalau yang berkirim SMS selama ini adalah aku, pikirku membathin. Gelisah akudibuatnya. “Duduk sini Win. Tidak ada siapa-siapa kok. Pak Kirno tadi dijemput Lasmi dan suaminya karena ia ingin banyak menghirup udara gunung yang segar. Mungkin agar bisa pulih,” ujarnya lagi.
Agak sedikit plong mendengar bahwa Pak Kirno suaminya sedang tidak dirumah. Setidaknya kalau Bu Rum marah terkait soal SMS ku itu, suaminya tidak ikut mendengarnya. Hanya aku tetap tidak bisa membuang kegelisahan yang kurasakan. Seperti pesakitan yang menunggu vonis hakim, aku hanya duduk mematung di kursi sofa di ruang tengah rumah Bu Rum. Bu Rum duduk di kursi lain yang ada, dekat tempat aku duduk. Baru kusadari, daster yang dipakainya ternyata terlalu pendek. Pahanya yang mulus terlihat terlihat terbuka. Hanya aku tetap tidak dapat menikmati pemandangan yang mengundang itu karena suasana tegang yang terjadi.
“Tadi waktu di pengajian, ibu minta ijin ke ibumu agar kamu mau mengantar ibu ke rumah Lasmi tiga hari lagi untuk menjemput Pak Kirno.Rencananya mau pinjam mobil Pak RT dan kamu yang menyetir. Ibumu setuju dan memberi nomor HP milikmu. Tapi ibu jadi kaget, sebab ternyata nomornya sama dengan nomor yang suka dipakai SMS ke ibu beberapa hari ini. Jadi kamu Win yang suka SMS ke ibu,” ujarnya tenang dan disampaikan tanpa emosi. Namun meskipun begitu, sempat kecut juga nyaliku.
“Eee…ee.. ti…eh… iya Bu,” jawabku terbata.
“Oh syukurlah kalau begitu. Ibu takut banget apa yang kamu sempat lihat diceritakan ke orang-orang lain. Ibu pasti sangat malu. Terima kasih banyak ya Win kamu tidak cerita ke orang-orang,”.
Ah ternyata ia tidak marah soal itu. Aku jadi merasa plong. Bahkan dengan terbuka, Bu Rum akhirnya bercerita soal kenapa ia terpaksa menggunakan pisang untuk memuaskan dorongan seksnya. Diceritakannya, meski sudah tergolong berumur namun kebutuhan biologisnya belum padam benar. Padahal sudah lama Pak Kirno tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami. Bahkan jauh sebelum terkena stroke. Makanya setiap keinginan untuk itu datang ia selalu berusaha memuaskan sendiri termasuk menggunakan pisang.
“Ibu malu banget lho sama kamu Win. Apalagi kalau kamu sampai cerita ke orang-orang. Mau ditaruh dimana muka ibu?” Kata Bu Rum lagi.
“Tidak Bu, saya janji tidak akan cerita ke siapa pun soal itu,” ujarku meyakinkannya.
Mungkin saking senangnya rahasianya soal ngeseks dengan pisang tidak akan terbongkar ia langsung berpindah duduk menjejeriku di sofa yang kududuki. Digenggam dan diguncang-guncangkannya tanganku.
“Terima kasih win, ibu sangat berterima kasih,” kata Bu Rum.
Beban yang semula seolah menghimpit dadaku langsung sirna melihat sikap Bu Rum. Hanya kembali aku sulit menjawab ketika ia menanyakan perihal kata-kata dalam beberapa SMS yang kukirimkan.
“Kalau ibu boleh tahu, sebenarnya apa yang mendorongmu mengirim SMS itu kepada ibu?”
“Eee… eee… sa… sa.. saya.. ee,” kembali aku terbata.
“Tidak apa-apa Win, jawab saja yang jujur. Ibu cuma ingin tahu,”
“Saya mengirim SMS itu karena sangat terangsang setelah melihat ibu,” kataku akhirnya.
Bu Rum kulihat terpana. Mungkin ia tidak percaya dengan jawaban yang kuberikan. Namun sebuah senyuman terlihat mengembang di wajahnya hingga aku tidak takut lagi.
“Jadi kamu juga benar-benar ingin begituan dengan ibu?”
“Eee… maksud saya.. ee. Iya kalau ibu bersedia,” jawabku mantap.
Mendengar jawabanku Bu Rum langsung meraih dan mendekapku. Dalam kehangatan dekapannya, wajahku tepat berada di busungan buah dadanya yang terbungkus BH hitam. Wajahku membenam di busungan susunya yang memang berukuran besar. Diperlakukan seperti itu kontolku jadi langsung bangkit. Mengeras di balik celana dalam dan jins yang kupakai.
Sesaat setelah Bu Rum melepaskan pelukan pada tubuhku, kulihat gaya duduknya makin sembrono. Kedua kakinya terbuka lebar hingga pahanya yang membulat besar terlihat sampai ke pangkalnya. Bahkan kulihat sesuatu yang membukit dan terbungkus celana dalam warna hitam. Aku tak berkedip menatapinya. Untuk ukuran wanita seusia dirinya, kaki dan bagian paha Bu Rum masih terhitung mulus. Memang ada lipatan-lipatan lemak dan kerutan mendekati ke pangkal paha. Tetapi tidak mengurangi hasratku untuk menatapi bagian yang merangsang itu termasuk ke bagian membukit yang tertutup celana dalam warna krem. Jembut di memeknya itu pasti sangat lebat karena banyak yang tidak tertampung celana dalam yang menutupinya hingga terlihat banyak yang keluar dari celana dalam yang dipakainya.
Rupanya Bu Rum tahu mataku begitu terpaku menatapi organ kewanitaannya. Mungkin karena telah yakin aku benar-benar mau menjadi pelepas dahaganya, ia pelorotkan sendiri celana dalam itu dan melepasnya.
“Bu Rum sudah nenek-nenek lho Win. Tetapi kalau kamu pengin melihat memek ibu bolehlah. Sebenarnya ibu juga sudah lama tidak puas main sendiri dengan tangan dan pisang,” katanya.
Bahkan tanpa sungkan, setelah melepas sendiri celana dalamnya ia duduk mengangkang membuka lebar-lebar pahanya. Memamerkan memeknya yang berbulu sangat lebat. Ah tak kusangka akhirnya dapat melihat memek Bu Rum dalam jarak yang sangat dekat. Memek Bu Rum lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat. Kontras dengan pahanya yang kuning langsat sampai ke selangkangannya. Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginanku untuk menyentuhnya menjadi tak tertahan. Kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya.
Kuusap-usap jembutnya yang keriting dan tumbuh panjang. Jembut Bu Rum benar-benar super lebat menutupi memeknya. Hingga meski telah mengangkang, masih tidak terlihat lubang memeknya karena tertutup rambut lebat itu. Kuusap-usap dan kusibak jembut yang tumbuh sampai ke atas mendekati pusar wanita itu dan di bagian bawah mendekati lubang duburnya. Menimbulkan bunyi kemerisik. Untuk bisa melihat lubang memeknya, aku memang harus menyibak rambut-rambut yang menutupinya dengan kedua tanganku. Bibir luar memek Bu Rum tampak tebal dan kasar karena sudah banyak kerutan dan warnanya coklat kehitaman. Di bagian dalam lubang memeknya yang berwarna hitam kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Ini rupanya yang disebut itil, pikirku. Tidak seperti ukuran memeknya yang besar, tebal dan tembem, itil Bu Rum relatif kecil. Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar kemaluannya yang sudah berkerut-kerut. Kutoel-toel itilnya itu dengan jari telunjukku yang sebelumnya kubasahi dengan ludah. Ia mendesah dan sedikit menggelinjang.
“Kamu sudah pernah begituan dengan perempuan Win? Ee.. maksud ibu ngentot dengan perempuan?”
“Belum Bu,” jawabku sambil tetap menggerayangi dan mengobok-obok vaginanya.
“Masa!? Kalau melihat memek wanita lain selain punya ibu?”
“Juga belum Bu. Saya hanya melihatnya di film BF yang pernah saya tonton. Memangnya kenapa Bu?” Jawabku lagi.
Sebenarnya aku berbohong.Sebab di rumah aku sering mengintip ibuku sendiri. Saat dia mandi atau berganti pakaian di kamarnya. Mendengar aku belum pernah berhubungan seks dengan perempuan dan belum pernah menyentuh vagina, entah kapan ia melakukannya, tanpa sepengetahuanku ternyata Bu Rum sudah melepas daster dan BH nya. Telanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya dan memintaku untuk melepas semua pakaian yang kukenakan.
“Oooww.. punya kamu besar juga ya Win,” kata Bu Rum sambil membelai kontolku yang telah tegak mengacung setelah aku telanjang.
Bu Rum tidak hanya membelai dan mengagumi kontolku yang telah keras terpacak. Setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung kepala penisku, ia memasukkan batang kontolku ke mulutnya. Aku jadi merinding menahan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan. Tubuhku tergetar hebat. Sesekali kurasakan mulutnya mengempot dan menghisap batang kotolku yang kuyakin semakin mengembang. Lalu dikeluarkan dan dikocok-kocoknyanya perlahan. Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila aku mengocok sendiri kontolku. Saking tak tahan, tanpa sadar aku memegang dan mengusap-usap rambut Bu Rum yang semestinya tidak pantas kulakukan mengingat usia dan sekaligus statusnya sebagai guru mengaji ibu-ibu di kampungku termasuk ibuku. Tetapi Bu Rum tak peduli. Ia terus asyik dengan kontolku. Dikulum,dihisap dan dikocok-kocoknya perlahan dengan gemas. Seperti wanita yang baru melihat kejantanan milik pasangannya. Mungkin karena selama ini ia hanya bisa melakukannya dengan pisang setelah kotol suaminya tidak berfungsi.
Sambil menikmati kocokan dan kuluman Bu Rum pada kontolku, kuremasi teteknya. Tetek Bu Rum gede dan sudah menggelayut bentuknya. Namun sangat lembut dan enak di remas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali aku memerah dan memilin-milinnya. Tak kusangka wanita yang dalam keseharian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampungku ini juga lihai dalam urusan kulum mengulum kontol. Aku dibuat kelojotan menahan nikmat setiap ia menghisap dan memainkan lidahnya di ujung kepala kontolku. Bahkan saat Bu Rum mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghisapi biji-biji pelir kontolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Pertahananku nyaris jebol. Karenanya aku berusaha menarik diri agar air maniku tidak muncrat ke mulut atau wajah Bu Rum.
Namun Bu Rum menahan dan menekan pinggangku. “Mau keluar Win ? Muntahkan saja di mulut ibu,” ujarnya sambil langsung kembali menghisap penisku. Akhirnya, pertahananku benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga untuk menahannya karena merasa tidak enak mengeluarkan mani di mulut Bu Rum. Sambil mendesis dan mengerang nikmat pejuhku muncrat sangat banyak di rongga mulut Bu Rum. Cairan kental warna putih itu kulihat berleleran keluar dari mulut wanita itu. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan menelannya dan dengan lidahnya berusaha menjilat sisa-sisa maniku yang berleleran keluar. Terpacu oleh kenikmatan yang baru kurasakan dan banyaknya mani yang keluar membuat tubuhku lemas seperti dilolosi tulang-tulangku. Aku terduduk menyandar di si kursi sofa tempat Bu Rum terduduk.
“Gimana Win, enak?”
“Enak banget Bu,”
“Nanti gantian ya punya ibu dibikin enak sama kamu. Ibu ke kamar mandi dulu,” ujarnya berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
Saat kembali dari kamar mandi, Bu Rum menyodorkan segelas besar teh manis hangat. Sodoran teh manisnya langsung kusambut dan kuteguk.Terasa hangat dan nikmat setelah tenaga hampir terkuras dan kini kembali segar. Saat itu baru kusadari Bu Rum masih bugil tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.Aku kembali terpaku pada tubuh bahenolnya yang masih lumayan mulus. Wanita berpinggul besar dan berdada montok namun sudah agak kendur itu,meskipun sudah menjadi nenek masih sangat menggoda. Jembutnya yang keriting lebat terlihat basah. Mungkin habis dibersihkan di kamar mandi untuk menghilangkan bekas air maniku.
“Mau lagi Win?” ujarnya mendekat dan berdiri tepat di tempat aku duduk. Kini memang giliranku untuk memuaskannya setelah kenikmatan yang diberikan padaku. Aku bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa pada Bu Rum karena memang belum pernah pengalaman dengan perempuan. Hanya dari sejumlah film BF yang sering kutonton, wanita kelihatannya sangat suka kalau memeknya dijilat. Maka aku langsung turun dari kursi panjang dan berjongkok di depan Bu Rum. Memeknya yang besar membusung kini tepat di hadapan wajahku. Jembut keriting lebatnya terlihat basah. Dan Bu Rum, melihat aku hanya terbengong memandangi bukit kemaluannya, langsung mengangkat kaki kirinya dan di tumpukan pada kursi panjang. Karena pahanya yang terbuka kini aku bisa melihat lubang memeknya yang nampak sudah longgar. Lubang memeknya menyerupai lorong panjang. Bahkan kulihat itilnya yang mencuat di ujung atas belahan memeknya.
Kembali aku menyentuh dan mengusap memeknya. Bibir luar memeknya yang berwarna coklat kehitaman penuh kerutan dan terasa lebih tebal. Namun makin ke dalam lebih lembut dan basah serta warnanya agak memerah.Kudengar Bu Rum mendesah saat jariku menyelinap masuk menerobos lubang vaginanya. Rambut kepalaku diusap dan diremas-remasnya. Desahannya mengingatkanku pada suara wanita yang tengah disetubuhi di adegan film BF. Aku jadi terangsang. Kontolku kembali menggeliat dan bangkit. Sambil mendesah, Bu Rum tak hanya meremas dan menjambaki rambut kepalaku. Tetapi ia berusaha menarik dan mendekatkan wajahku kememeknya. Aku jadi tahu, nampaknya ia tidak ingin memeknya hanya dicolok-colok dengan jariku, Aku yang memang sudah kembali terangsang langsung mendekatkan mulutku dan mulai mengecupi lubang memek Bu Rum.
Ternyata selain bibir luar vaginanya yang mengeras dan berkerut-kerut, di luar kelentitnya yang menonjol besar, ada sebentuk daging yang menjulur keluar dari lubang memeknya. Bentuknya nggedebleh mirip jengger ayam jantan. Pengetahuanku tentang bagian paling intim milik wanita memang sangat terbatas dan melihatnya dari jarak sangat dekat baru kali ini mendapat kesempatan. Satu-satunya memek wanita dewasa yang pernah kulihat adalah milik ibuku. Aku memang sering mengintipnya saat ibu mandi. Atau saat berganti baju di kamarnya dan pernah beberapa kali melihatnya dalam jarak cukup dekat saat dia tidur. Tetapi sepengetahuanku tidak ada jengger ayam di lubang memek ibuku. Jadi terasa agak aneh atas apa yang kulihat di lubang memek Bu Rum. Tetapi aku tak peduli. Hingga selain menjilati bibir vaginanya, jengger ayamnya juga tak luput dari sentuhan mulut dan lidahku. Bahkan aku langsung mengulum, menghisap dan menarik -nariknya dengan mulutku.
“Ohhh… sshhh… aahhh… enak Win. Aaauuwww… ya.. ya.. aaahhh.. sshhh.. enak banget,”
Aku sangat senang karena ternyata Bu Rum menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahku di lubang memeknya. Dari liang sanggamanya mulai keluar lendir yang terasa asin di lidahku. Tetapi itu pun tidak membuat surut langkah untuk terus mengobok-ngobok vaginanya dengan mulut dan lidahku. Aku terus mencerucupi dan menghisapnya hingga lendirnya banyak yang tertelan masuk ke kerongkonganku.Diperlakukan seperti itu Bu Rum seperti kesetanan. Tubuhnya tergetar hebat dan kulihat ia merintih, mendesah sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya.
“Kamu naik dan tiduran di sofa Win. Sshhh aahh jilatanmu di memek ibu enak banget,” katanya.
Seperti yang dimintanya, aku naik ke sofa dan tiduran telentang dengan kaki menjuntai. Setelah itu Bu Rum ikutan naik. Tadinya kukira ia akan menyetubuhiku dengan posisi wanita di atas seperti yang pernah kulihat dalam adegan film mesum yang menggambarkan hubungan seks antara wanita dewasa dan bocah ingusan. Tetapi tidak. Ia berdiri dan memposisikan kedua kakinya diantara tubuhku. Lalu bertumpu di dinding tembok yang ada di belakang kursi sofa dan sedikit menurunkan tubuhnya. Rupanya, ia masih ingin mendapatkan jilatan di memeknya dengan posisi yang membuat dirinya lebih nyaman dan bergerak leluasa. Sebab saat memeknya telah berada tepat di depan wajahku, ia langsung membekapkannya ke mulutku.
Tak kusangka, wanita yang sangat dihormati di kampungku karena selalu berbusana muslimah yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu, di usianya yang sudah 53 tahun masih sangat menggebu. Pantesan ia suka menyogok-nyogok memeknya dengan pisang. Mungkin karena tidak tahan akibat tidak pernah disentuh oleh suaminya yang sudah tidak bisa melayaninya sama sekali.
Aku sempat gelagapan karena tidak mengira Bu Rum akan membekapkan memeknya ke wajahku. Tetapi setelah mengetahui apa yang diinginkannya, aku langsung menyambutnya meskipun tidak tahu harus bagaimana semestinya dilakukan. Seperti sebelumnya kembali kujulurkan lidah dan kembali kujilati lubang memeknya. Namun kali ini dengan lebih semangat. Daging jengger ayamnya yang keluar dan menggelambir kukulum. Lalu lidahku menjulur masuk sedalam-dalamnya di lubang vaginanya sampai hidung dan wajahku ikut belepotan oleh lendir yang keluar dari liang sanggamanya. Sambil terus mengobeli memeknya dengan lidah dan mulutku, pantat Bu Rum juga menjadi sasaran remasan tanganku. Meskipun sudah melorot, pantat Bu Rum yang besar terasa masih lumayan kenyal. Nampaknya ia menjadi keenakan. Bu Rum melenguh dan mendesah.
“Iya Win…aahhh… sshhhh…aaahhhh… ssshh.. enak banget. Terus colok memek ibu dengan lidahmu sayang. Ahhh.. ya.. ya… oooohhhhh…. ssshhhh,” desahnya tertahan saat aku makin dalam menjulurkan lidah.
Mendengar rintihan dan desahan Bu Rum, aku jadi makin bersemangat.Hanya karena tidak punya pengalaman, aku hanya menjilat dan mengisap bagian dalam memeknya sekena-kenanya. Rupanya karena terlalu menggebu, aku sempat menghisap itilnya dengan kuat. Bu Rum memekik. Tetapi tidak marah dan malah makin keenakan.
“Ia Win itu itil ibu.. enak banget…sshhh ..aahhh.. aahhh. Terus Win hisap itil ibu… aaoooohhh …oooohhhh,”
Seperti yang dimintanya, itil Bu Rum yang akhirnya paling sering menjadi sasaran jilatan dan hisapan mulutku. Bahkan sambil terus mencerucupi kelentitnya, dua jari tanganku kupakai untuk menyogok-nyogok bagian dalam memeknya. Saat itulah Bu Rum menjadi kelojotan dan beberapa saat kemudian ia memintaku berhenti.
“Udah Win ibu nggak tahan. Bisa KO kalau diteruskan. Sekarang ibu pengin dientot dengan kontolmu. kamu juga pengin kan ngentot dengan ibu kan?”
“Ii .. iya bu. Saya pengin banget. Ta.. ta.. tapi saya tidak tahu caranya,”
“Nggak apa-apa. Nanti ibu ajarin,” ujarnya seraya menggamit lenganku.
Ia membawaku ke kamarnya. Kamar dengan ranjang spring bed berukuran besar dan tampak rapi tertutup sprei motif garis-garis. Di kamar Bu Rum, ada meja rias berukuran besar dengan berbagai alat make up di atasnya serta sebuah almari pakaian model antik di samping gambar Bu Rum dan suaminya dalam pose berpasangan mengenakan pakaian adat Jawa. Foto itu sepertinya dibuat saat usianya masih di bawah 40 tahun. Bu Rum terlihat sangat cantik dan seksi. Suaminya, Pak Kirno juga terlihat kekar dan tampan. Adanya gambar Pak Kirno suaminya di kamar itu, sebenarnya aku sempat grogi. Tetapi melihat Bu Rum sudah telentang di ranjang dan dalam posisi mengangkang, sayang kalau harus melepaskan kesempatan yang sudah berada di depan mata. Aku sudah sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan ngentot dengan Bu Rum. Aku juga ingin mengetahui dan merasakan seperti apa rasanya ngentot sebenarnya.
Dengan kontol tegak mengacung aku naik ke ranjang. Hanya aku tetap bingung bagaimana harus memulai. Di antara kedua pahanya yang membuka lebar, memek Bu Rum tampak menganga menunggu batang zakar pria yang mau menyogoknya. Sepasang buah dadanya yang besar, dalam posisi telentang terlihat jadi nggedebleh dan hanya puting-putingnya yang hitam kecoklatan terlihat menantang. Melihat aku cuma mematung, rupanya Bu Rum menjadi tak sabar. Ditariknya tanganku hingga menjadikan tubuhku ambruk dan menindih tubuh montoknya.Beberapa saat kemudian kurasakan Bu Rum meraba selangkanganku dan meraih kontolku. Batang penisku yang sudah mengacung dikocok-kocoknya perlahan hingga makin mengeras dan membesar.
Oleh wanita itu, kepala penisku digesek-gesekkannya di sekitar bibir kemaluannya. Setelah tepat berada di bagian lubangnya, ia berbisik.”Tekan Win, biar kontol kamu masuk ke memek ibu,” bisiknya lirih di telingaku. Slessseeppp.. blleeesss. Tanpa banyak hambatan batang kontolku yang lumayan panjang dan besar seluruhnya masuk membenam. Mungkin karena lubang memek Bu Rum yang sudah kelewat longgar dan licin akibat banyaknya lendir yang keluar. Bagian dalam memek Bu Rum hangat dan basah. Dan tanpa ada yang memerintah, seperti semacam naluri, aku membuat gerakan naik turun pinggangku hingga kontolku sekan memompa lubang memek wanita itu.
“Iya begitu Win, terus entot sayang. Ah.. aahhh….aahhh.. kamu merasa enak juga kan,” Aku mengangguk dan tersenyum. Kulihat Bu Rum mulai mendesah-desah.Mungkin ia mulai merasakan enaknya sogokan kontolku. Dan bagiku,kenikmatan yang kurasakan juga tiada tara. Jauh lebih nikmat dibanding mengocok sendiri. Gesekan-gesekan batang kontolku pada dinding memeknya yang basah menghantarkan pada kenikmatan yang sulit kuucapkan. Aku terus mengaduk-aduk memeknya dengan kontolku. Mata Bu Rum membeliak-beliak dan meremasi sendiri teteknya. Melihat itu aku langsung menyosorkan mulutku untuk mengulum dan menghisapi salah satu putingnya. Pentil susunya yang berwarna coklat kehitaman terasa mengeras di bibirku.
“Iya Win… terus hisap sayang… aahhh… aahhh,Kamu ternyata sudah pinter,” ujarnya terus mendesah.Makin lama kusogok dan kuaduk-aduk, lubang memek Bu Rum kurasakan makin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok…cepok… cepok… setiap kali batang kontolku masuk menyogok dan kutarik keluar.
Bosan ngentotin Bu Rum dengan posisi menindihnya, kuhentikan sogokanku pada memeknya. Pasti asyik dan tambah merangsang kalau bisa melihat memeknya yang tengah kusogok-sogok, pikirku membathin. Aku bangkit, turun dari ranjang. Dan tanpa meminta persetujuannya, kaki Bu Rum kutarik dan kuposisikan menjuntai di tepi ranjang. Tindakanku itu membuat Bu Rum agak kaget. Namun tidak marah dan bahkan sepertinya ia menunggu tindakan yang akan kulakukan selanjutnya. Namun setelah pahanya kembali kukangkangkan dan kontolku kembali kuarahkan ke lubang vaginanya, Bu Rum tersenyum. “Kamu pengin ngentot sambil ngelihatin memek ibu Win? Iya sayang, kamu boleh melakukan apa saja pada ibu,” katanya.
Ternyata menyetubuhi sambil berdiri dan melihat ketelanjangan lawan mainnya benar-benar lebih asyik. Lebih merangsang karena bisa melihat keluar masuknya kontol di lubang memek. Saat kontolku kutekan, bibir memeknya yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun saat kutarik, seluruh bagian dalam memeknya seakan ikut keluar termasuk jengger ayamnya yang menggelambir. Pemandangan itu membuat aku kian terangsang dan kian bersemangat untuk memompanya. Teteknya juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang kulakukan. Aku makin bernafsu dan makin cepat irama kocokan dan sodokan kontolku di liang sanggamanya. Bu Rum tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang dirasakan. Ia merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Aku juga memperoleh nikmat yang sulit kulukiskan. Meski lubang memek Bu Rum sudah longgar tetapi tetap memberi kenikmatan tersendiri hingga pertahananku nyaris kembali jebol.
“sshhh … aahh… sshhh… aaakkhhh… memek ibu enak banget. Saya nggak kuat bu,” ujarku mendesahsambil terus memompanya.
“Tahan sebentar Win. Aaahhh.. sshhh… kontolmu juga enak banget,”Bu Rum bangkit memeluk serta menarik pinggangku hingga tubuhku ambruk menindihnya. Kedua kakinya yang panjang langsung membelit pinggangku dan menekannya dengan kuat. Selanjutnya Bu Rum membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya batang kontolku yang berada di kedalaman lubang memeknya serasa diperah. Kenikmatan yang kurasakan kian memuncak. Terlebih ketika dinding- dinding vaginanya tak hanya memerah tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan benar-benar makin tak tertahan.”
Ooohh… aahh… aahhh.. ssshhh… aakkhh enak banget. Saya …aaahhh nggak kuat Bu. Ohhh enakkkhhh bangeet,”
“I..iiya Win, ibu juga mau nyampe. Tahan ya sebentar ya..aaahhh…sshhh.. sshhhh…aahhh….ssshh ….aaaoookkkh,”
Goyangan pantat dan pinggul Bu Rum makin kencang. Dan puncaknya, ia memeluk erat tubuhku sambil mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi. Saat itu, di antara rintihan dan erangannya yang makin menjadi kurasakan tubuhnya mengejang dan empotan memeknya pada kontolku kian memeras. Maka muncratlah spermaku di kehangatan lubang memeknya berbarengan dengan semburan hangat dari bagian paling dalam vagina guru mengaji ibuku.Karena kenikmatan yang aku dapatkan, cukup lama aku terkapar di ranjang Bu Rum.
Saat aku terbangun, Bu Rum sudah menyiapkan segelas teh panas dan mengajakku menyantap lontong dan opor ayam bikinan ibuku. Kami menyantapnya dengan nikmat. Bahkan dua bungkus rokok kegemaranku telah tersedia di meja makan. Kata Bu Rum, ia menyempatkan membelinya di warung Lik Karni saat aku tertidur.
Malam itu Bu Rum benar-benar melampiaskan hasratnya yang tertahan cukup lama. Sesudah makan aku diajaknya bergumul di karpet di ruang tengah di depan televisi lalu berlanjut di ranjang kamar tidurnya. Aku bak seorang murid baru yang cerdas dan cepat pintar menerima pelajaran. Ia mengaku sangat menikmati dan merasa puas oleh sogokan-sogokan kontolku di memeknya yang memiliki jengger ayam.
“Ibu kira udah nggak bakalan merasakan enaknya yang seperti ini lagi. Karena sudah lima tahun lebih sejak bapak kena stroke tidak pernah mendapatkannya. Makanya terpaksa pakai pisang dan kadang kontol karet kalau lagi kepengen,” katanya sambil meremas gemas kontolku setelah persetubuhan yang keempat kalinya malam itu.Ternyata wanita yang selalu tampil bak muslimah yang taat itu, juga memiliki beberapa koleksi film porno. Ia sempat menyetel sejumlah koleksinya untuk ditonton bersamaku saat istirahat setelah ngentot yang ketiga di depan televisi. Namun yang mengejutkan, karena “nonton bareng” film porno aku jadi tahu kalau ibuku juga penggemar film porno.Itu terlontar secara tak disengaja oleh Bu Rum. Kata Bu Rum yang paling banyak dikoleksi adalah yang menggambarkan adegan incest atau hubungan seks antar anggota keluarga.
Saat itu Bu Rum memutar dua film. Film pertama menggambarkan adegan seks antara pria muda berkulit hitam dengan wanita tua kulit putih. Sang wanita kulit putih dibuat merintih dan mengerang karena sogokan kontol pria pasangannya yang perkasa. Bahkan akhirnya si wanita merelakan anusnya dijebol kontol panjang sang negro muda. Film kedua yang merupakan semi film cerita mengisahkan wanita STW yang bekerja di perusahaan penebangan hutan. Suaminya selalu pergi cukup lama dan hanya beberapa hari tinggal di rumah karena pekerjaannya itu.Si ibu yang sering merasa kesepian saat suaminya pergi, sering mengobel-ngobel sendiri memek dan itilnya saat hasrat seksnya datang.Ulah si ibu sering dipergoki secara diam-diam oleh pria remaja yang merupakan anak sulungnya. Maka di satu kesempatan, saat tengah bermasturbasi dan sang anak tak tahan menahan nafsu ia mendekati sang ibu. Keduanya larut dalam permainan panas di dapur, ranjang dan bahkan di kamar mandi tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka pasangan ibu dan anak.
Usai pemutaran film yang kedua, kukatakan pada Bu Rum bahwa dibanding film yang pertama, adegan seks ibu dan anak yang paling bagus. Tetapi komentarku itu membuat Bu Rum keceplosan. Tanpa sadar ia menyebut bahwa film porno itu dipinjam dari Bu Narsih (nama ibuku). Saat itu ia berusaha meralat. Ia mungkin baru bahwa yang diajaknya bicara adalah aku anak Bu Narsih. Tetapi akhirnya Bu Rum tersenyum dan berterusterang.
“Keinginan manusia akan seks kan manusiwai Win. Seperti ibu dan ibumu,meskipun sudah berumur tetapi kebutuhan akan itu masih belum padam,”kata Bu Rum.
Ibuku memang sudah 3,5 tahun menjada setelah ayah meninggal akibat menderita diabetes cukup lama. Untuk menikah lagi mungkin malu karena cucunya sudah tiga yang diperoleh dari Mbak Ratri, kakak perempuanku.Bahkan salah satu cucunya sudah duduk di bangku SLTP. Maka ia memilih memendam hasratnya dan lebih menyibukkan diri pada usaha jual beli perhiasan berlian yang menjadi usahanya selama ini.
Menurut Bu Rum, koleksi film-film porno yang dimiliki ibuku cukup banyak. Koleksi film seksnya yang berthema hubungan seks sedarah tergolong lengkap. Bahkan Bu Rum mengaku, ia mengenal penis palsu dari karet yang dikenal dengan sebutan dildo juga dari ibuku. “Pergaulan ibumu kan luas terutama dengan ibu-ibu dari kalangan menengah atas. Mungkin dari ibu-ibu yang menjadi sasaran bisnisnya itu ia jadi mengenal banyak hal,” ujar Bu Rum menambahkan.
Meskipun sangat kaget, tetapi aku tidak mencoba memperlihatkannya di hadapan Bu Rum. Sebab sebagai anaknya aku tidak pernah melihat ibu nonton film porno atau barang-barang berbau seks yang dimilikinya. Di kamar tidur ibu memang ada televisi berukuran besar dan perangkat pemutar DVD. Tetapi kebanyakan film-filmnya adalah film hindustan karena ibu penggemar berat bintang Shah Ruk Khan. Berarti ia memiliki tempat penyimpanan khusus, ujarku membathin.
Sekitar pukul 03.00 dini hari, dengan tubuh lunglai aku meninggalkan rumah Bu Rum dengan mengendap agar tidak dipergoki warga lainnya. Ibuku membukakan pintu sambil menggerutu. Katanya mengganggu orang tidur.Tetapi wajahnya kulihat tidak seperti orang bangun tidur. Bahkan televisi di kamarnya terdengar masih menyala. Seperti kebiasaanya saat tidur ia selalu mengenakan daster longgar.Tetapi saat itu dasternya kelewat tipis hingga terlihat membayang lekuk-liku tubuhnya yang aduhai. Ternyata ia juga tidak memakai kutang dan celana dalam sampai-sampai kulihat tonjolan putingnya pada sepasang buah dadanya yang hampir sama besar dengan punya Bu Rum. Ah bisa jadi ibu bukannya tidur. Tetapi lagi asyik mengocok-ngocok memeknya dengan kontol karetnya sambil nonton adegan seorang ibu yang tengah ngentot sama anak lelakinya. Hanya karena terlalu kecapaian, aku langsung masuk kamar dan tidur.
03.58 | 0 komentar

Tempek Nek Suminten Ngempot-ngempot

Umurku 27 tahun dan baru pindah kos ke tempat yang baru. Sedang istri dan seorang anakku masih tingal di kota tempatku bekerja, karena aku tugas belajar selama 2 tahun di kota ini. Nek Suminten berusia 58 tahun, memiliki empat anak dan 9 orang cucu. Dia seorang janda yang memiliki 25 kamar kos, serta memiliki beberapa karyawan.
Aku tinggal di sudut kiri tempat kos-kosan itu, menyewa sebuah kamar ukuran 2 x 3,5 meter. Ada kamar mandi di dalam serta di ruang itu, aku memiliki sebuah meja kecil dan sebuah kursi, serta sebuah tempat tidur dan ada sebuah sudutnya yang bisa kupasangi kompor dan peralatan masak. Sekedar untuk masak sarapan pagi, karena siang aku harus makan di kantin tempatku tugas belajar dan malam juga lebih sering aku makan di luar. Malah sarapan pagi juga aku lebih sering di luar.
Orangtuaku dan mertuaku setiap bulan mengirimiku uang, hingga gajiku yang diambil istriku juga setiap bulan ditambahi oleh orangtuaku dan Mertuaku. Selama aku tugas belajar, isteri dan anakku, tinggal bersama mertuaku.

NEK SUMINTEN

Pukul 20.00 WIB aku masih menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen kami. Saat itu aku hanya memakai kain sarung dan telanjang dada. Aku tidak memakai celana dalam, karena sangat gerah. Kipas angin berukuran kecil yang tersedia juga rasanya tak mampu menghalau rasa gerah. Karena penat, aku keluar dari kamarku dan duduk di bawah pohon ceri di depan jendelaku. Saat itu Nek Suminten keluar pula dari kamarnya dengan mamakai daster longgar. Aku melihat dia juga tidak memakai Bra.

"Eh.. Nak Rudy, belum tidur ya?" sapanya dengan senyum khasnya. Bila dia tersenyum  begitu manis sekali. Apakah karena aku sudah empat bulan tak berhubungan seks? Giginya kelihatan rapi berbaris, putih dan bersih, sma dengan kulit tubuhnya. Rambutnya yang setiap minggu dia cat, selalu kelihatan hitam berkilat.

"Gerah sekali, Nek," kataku. Nek Suminten terkenal cerewet bila dengan anak-anak mahasiswa yang masih remaja, karena mereka suka berbuat onar dean tidak mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. seperti buang sampah sembarangabn. Tidak mau membersihkan beranda kamar masing-masing dan membuat air seenaknya saja. Mereka diam-diam menyebut Nek Suminten dengan sebutan Nek Lampir.

Nek Sumi, begitu aku selalu memanggilnya, duduk di sisi kananku. Aku melihat dengan jelas, buah dadanya bergoyang, membuatku jadi tegang tak karuan. Kami bercerita apa saja dan Nek Sumi sembari menggoyang kipas tangannya, menghalau rasa gerah.
"Nenek awalau sudah tua masih tetap cantik dan tubuh Nek Sumi masih kelihatan padat," aku memancing dan menanyakan apa rahasianya. Kulihat Nek Sumi tersipu. Mungkin tak pernah anak-anak kos memujinya selama ini, bahkan selalu mencari gara-gara untuk ribut.
"Ah.. kamu ini ada-ada saja," bantahnya tersipu. Aku kira langkah awalku sudah kena.
"Sunguh Nek. Masih menggemaskan setiap lelaki," kataku meyakinkan dan berupaya berkata sejujur mungkin.
"Ah... mungkin karena Nak Rudy mungkin sudah ruindu dikeloni oleh isteri," katanya sembari tersenyum dan mencubit pahaku dengan gemas.
"Justru, aku selalu teringat ibuku, Nek. Aku rindu sekali pada ibuku. Biasanya kalau aku sedang risau, ibu selalu datang menyabarkan diriku sembari mengelus-elus kepalaku, mirip perlakuan pada anak bayi," kataku pula.
"Oh.. jadi kamu rindu ibu ni?" katanya. Aku mengangguk. Saat dia menunduk mengambil kipasnya yang terjatuh, aku jelas melihat teteknya yang sudh molor, tapi mulus dan putih. Kontan kontolku mengeras dan berontak.. Kutatap buah dadaku itu lekat-lekat.
"He kamu melamun, lihat apa sih?" kata Nek Sumi sembari memperbaiki dasternya, karean dia tahu aku melihat buah dadanya. Dia mencubit kembali pahaku dan berkata:" BUah dada yang sudah peot begini, masih dilirik."
"Tua, tapi masih OK punya Nek. AKu jadi gemas dan kepingin," kataku berterus terang. Keberanianku, karena Nek Sumi memberiku respons.
"Ah, kamu ini ada-ada saja," ujarnya lebih genit lagi.
"Sunguh, Nek. AKu kepingin, nih," kataku semakin berani.
"Awas nanti ada orang, baru nyaho kamu," ancamnya.
"Kan hanya kita berdua, Nek?" jawabku lebih cepat dan kontolku semakin mengeras. Nek Sumi tersenyum penuh arti. Kami pun diam sesaat. Kami hanyut dengan pikiran kami masing-masing.

"Nek... aku kepingin, nih," kataku bermanja.
"Hussst... nanti didengar orang. Gak baik," kata Nek Sumi. Dalam hatiku, aku sudah berada pada sasaran. Buktinya dia hanya takut di dengar orang.
"Ini rahasia kita dong," kataku menyerang.
"Ih.. laki-laki mana bisa jaga rahasia?" Nek Sumi berkelit. Kulihat ke kiri dan ke kanan.
"Pokoknya aku bisa jaga rahasia. Kalau aku gak bisa jaga rahasia, mana mungkin aku sampaikan niatku ini. Aku sudah punya isteri dan anak, ya aku harus jaga rahasia sekuat-kuatnya Nek," kuyakinkan Nek Sumi. Nek Sumi hanya tersenyum.
"Nek, aku duluan masuk ke kamarku, ya. Bila nenek sudah merasa aman, nenek masuk aja. Pintu tidak aku kunci," kataku meyakinkan dan aku langsung meninggalkannya tanpa menungu jawabannya. Aku memasuki kamarku dan menutup pintu. Kuintip Nek Sumi dari lubang kunci. Dadaku berdegup kencang menunggunya. AKu melihat Nek Sumi celingak-celinguk kiri dan kanan dengan sangat awas. Hatiku gembira. Itu pertanda Nek SUmi akan datang ke kamarku. Tapi bagiku menunggu waktu itu sangat lama. Hampir setengah jam aku mengintipnya dari lubang kunci, akhirnya Nek Sumi berdiri. Setelah melihat kiri dan kanan, dia melangkah cepat ke arah pintu kamarku dan membuka pintu kamarku. Saat itu aku cepat menariknya dan mengunci pintu. Saklar lampu langsung kumatikan dan kami saling berbisik.
"Hati-jati jangan sampai ketahuan orang lo," katanya. AKu diam. Langsung kupeluk Nek Sumi. Aku melapaskan sarungku dan aku sudah telanjang bulat. Cepat pula kuangkat daster Nek Sumi yang longgar itu dan... Astaga, Nek sumi juga tidak memakai apa-apa, selain daster longgarnya itu. Walau dalam keadaan remang-remang, aku melihat tubuhnya yang putih mulus walau agak gempal. Perutnya sudah berlipat dan pahanya juga sangat rapat. Cepat kukecup bibir Nek Sumi dan memeluk tubuh telanjangnya. Nek Sumi cepat pula membalas kecupanku. Lidah kami sudah mulai menari-nari dengan lincahnya.

Buah pantatnya yang besar, membuat aku semakin semangat dan kutuntun Nek Sumi ke atas ranjangku. Kunyonyot pentil teteknya yang besar dan  kuremas-remas buah dadanya yang walaupun sudah molor, tapi masih terasa kenyal. Kujilati lehernya dan aku mengelus-elus memeknya yang sudah mulai basah itu.

"Cepat sayang.. memek Nenek dimasuki saja," bisiknya manja. Duh manjanya ucapannya itu, membuatku semakin bersemangat. Aku mulai menusukkan kontolku ke dalam memeknya yang licin tanpa bulu. Nek Sumi ternyata sangat rajin mencukur bulu-bulu yang tumbuh di memeknya itu.

Perlahan aku mulai memompanya. Suara kecepak dan kecepuk terdengar setiap kali aku menyodok dan menarik kontolku. Licin sekali memeknya. Aku semakin bergairah, Kuangkat kedua kaki Nek Sumi ke bahuku dan aku memompanya secara teratur. Nek Sumi kesenangan dan nafasnya mendesah-desah. Diremasnya kedua tanganku dengan kuat, sembari dia menggigit bibirnya dan mengeluarkan suara erangan yang panjang. Aku terus memompanya.

"Hayo sayang... jangan siksa aku. Keluarkan didalam..." desisnya sembari mengerang. Dengan kuat kutusuk kontolku sedalam mungkin dan kupeluk tubuhnya yang gemuk itu, lalu kusemprotkan beberapa kali spermaku ke dalam memeknya yang hangat itu. Walau dia sudah monopause, memeknya masih terasa licin sekali dengan lendirnya yang hangat. Kami saling berpelukan dan tersenyum. Begitu kontolku keluar, dia cepat cepat memakai dasternya dan mengecup pipiku.

Dia minta aku keluar lebih dulu dan duduk di kursi di bawah pohon ceri. Bila sudah aman dia minta aku mengeluarkan suara jentitan pada pertemuan ibu jari telunjukku dan jari tengah. Dalam hati, Nek Sumi memang perempuan lihai. Mungkin dia juga sering selingkuh dengan laki-laki lain. Setidaknya aku mendapatkan kepuasan seks darinya. Setelah aku merasa aman, aku memberinya kode dan dia cepat keluar dan duduk di sampingku. Sembari sama-sama merokok kami kembali bercerita.

Malam itu juga Nek sumi menyatakan cintanya padaku. Aku terkejut, Tap Nek SUmi meyakinkanku, kalau kami hanya pacaran saja. Dia tidak akan menuntut untuk dinikahi. Yang penting dia bisa dipuasi bathinya. Aku setuju. Jadilah Nek sumi pacarku selama dua tahun aku di kotanya dan aku bebas dari sewa kamar. Bahkan aku selalu mendapat makanan gratis masakan istimewa.
Bukan itu saja. Karena akua mengaku orang kampung dan aku orang miskin, tak jarang pula Nek SUmi memberiku uang, menyelipkannya di saku bajuku. Untuk uang jajan, katanya. AKu tersenyum dan menerimanya. Pokoknya kami dua kali seminggu melakukan hubungan seks dan saling memuaskan.
03.55 | 0 komentar

Rabu, 16 Desember 2015

Nikmat nya di Sepong Mama Pacarku

Ini ku ceritain pengalamanku sama nyokapnya whiena…Waktu itu kira-kira jam 8 malem ku berniat mau kerumahnya whiena soalnya ku janjian mau nganter dia ke acara ultah temennya…
Trus pas ampe dirumahnya ternyata yang buka pintu Ibu Indah, nyokapnya whiena yang juga dosen wali ku… “malam Bu” sapaku. “en nak Rio, masuk..”
Aku pun langsung masuk kedalam rumah, kulihat Ibu Indah begitu seksi dengan menggunakan daster putih yang serba tipis sehingga terlihat tuBuh Ibu Indah yang langsing..”gila ni Ibu udah nikah kok masih seksi banget ya” kataku dalam hati
“Whiena nya ada Bu?”
“oh Whiena tadi diajak sama Papanya kerumah neneknya yang lagi sakit, dia titip pesan ga bisa kerumah temennya yang ulang tahun, dia minta maaf sama kamu juga karena ga sempat nelpon soalnya tadi buru-buru sekali..”
“jam berapa perginya Bu”
“sekitar satu jam yang lalu…mungkin sekarang masih dalam perjalanan”Rumah neneknya whiena memang lumayan jauh sekitar 3 jam perjalanann dari kotaku.
“oh..kalo gitu saya permisi Bu”
“Jangan dulu ada yang mau Ibu tanya sama kamu tentang Whiena, tapi Ibu bikinin minum dulu ya”
Ibu Indah pun langsung masuk kedapur, sementara hatiku jadi bingung entah apa yang mau ditanyakan oleh Ibu Indah, jangan-jangan di tau soal hubungan ku yang intim bersama whiena, bakal diintrogasi nih pikirku…… GAWAT ……

BU INDAH
Ibu Indah keluar dari dapur dengan membawa dua gelas minuman dingin.”silakan diminum Rio”
Aku pun langsung minum sementara hatiku agak tegang karena takut pada Bu Indah yang mungkin akan marah-marah…. dag dig dug detak jantungku terdengar keras …. seakan mau lepas jantung ku ini.
Ibu Indah duduk dikursi pas dihadapan ku dan dasternya agak tersingkap sehingga pahanya yang putih terlihat jelas, jatungku berdenyut makin kencang dan segera menunduk karena tidak enak sama Bu indah.
“Rio kamu serius pacaran sama Whiena?”
Aku agak terkejut karena pikiranku masih melayang entah kemana.”serius Bu, saya siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa sama Whiena” jawabku sambil tetap menunduk.
“kamu kok diajak cerita malah nunduk sih Rio, kan ga enak.””Maaf Bu” kuangkat kepalaku, kini duduk Bu indah agak mengangkang sehingga samar-samar kulihat bagian dalamnya dan ternyata Bu indah tidak pake cd, nafas ku pun agak memburu menahan nafsu namun tidak berani berbuat apa-apa karena yang dihadapanku adalah nyokapnya whiena yang juga dosen wali dikampusku.

“kamu kenapa Rio” tanya Bu indah pura-pura tidak tahu.”tidak Bu, anu….” aduh aku mulai bingung, sementara Bu indah tersenyum memandang ku. Kemudian Bu indah berdiri dan duduk disampingku.Kamu terangsang ya liat paha Ibu, aku pun hanya diam sementara tangan Bu indah mulai memegang pahaku,
Kemudian Bu indah berbisik, “kamu puasin Ibu ya ini malam, Ibu sudah lama ga pernah disentuh oleh bokapnya whiena, dia terlalu sIbuk sama urusan kantornya”.
“tapi Bu..” srup bibirnya Bu indah langsung melumat bibirku dan tangannya meramas-remas ****** ku, pikiranku sangat kacau, aku masih bingung dan belum percaya kalo ternyata Bu indah memiliki nafsu yangg tinggi. birahiku pun mulai bangkit, aku pun mulai meremas-remas toketnya Bu indah.
“Terus Rio, enak banget..”dan tangan Bu indah mulai membuka celana jeans ku, aku pun membantunya dan kemudian kulepas kaosku sehigga kini tinggal cd yang melekat.
“Rio kita kekamar aja yuk.” Dan kemudian mencium bibirku.Bu indah langsung masuk kekamar dan membuka dasternya, tubuh Bu Indah kini polos.
“Wow Ibu cantik banget, putih, seksi, ga kalah sama whiena””ah kamu bisa aja Rio” jawab Bu indah sambil tersenyumTubuh Bu indah memang sangat mulus, kulitnya putih, toketnya yang besar, serta bulu jembutnya dicukur rapi.”Sini dong Rio, kok malah bengong”
Ibu Indah duduk di tepi ranjang dan kemudian aku mendekat dan menunduk mencium bibirnya. Tangan Bu indah melepaskan cd ku dan keluarlah kontolku.
“gila Rio. Punya kamu besar banget, lebih besar dari punya suamiku.”dia pun mengelus-elus ****** ku, kodorong kepalanya agar segara menghisap kontolku.”Hisap ****** Rio Bu””sabar ya Rio, jangan kuatir yang pasti malam ini kita harus sama-sama puas”Bu indah kemudian berdiri dan menciumku kemudian turun kedadaku, putingku di hisap dan dijilati.Ouh..Bu enak banget Bu, terus Bu.
Kemudian Bu indah berjongkok dihadapan ku dan menjilat kontolku seperti menjilat es krim.
Kemudian memasuk kan kontolku kemulutnya. Dia pun memompa dengan lihai. Nikmat sekali rasanya, lebih nikmat dari hisapannya whiena..
Terus Bu, aku pun mulai memompa kontolku didalam mulut Bu indah sehingga mulut Bu indah terlihat penuh dan kadang Bu indah seperti mau muntah karena kontolku masuk sampai tenggorokannya..aku mencabutnya dan nampaknya Bu indah sedikit kecewa.
“Terus Rio, masukin kontolmu sedalam-dalamnya kemulutku, kontolmu enak Rio. Perkosa mulut Ibu Rio”
Aku pun kembali memasukkan kontolku kedalam mulut Bu indah dan tangan ku memegang kepalanya sehingga gerakannya berirama. Sementara itu tangan Bu indah memegang erat paha ku karena dorongan kontolku semakin keras menghujam mulut Bu indah.
“mulut Ibu enak banget isep terus Bu. Isep yang kuat”
Sektiar 20 menit ku perkosa mulut Bu indah sampai Bu indah hampir muntah. Aku pun mencabut kontolku.
“kuat juga kamu Rio ya udah hampir setengah jam di karoeke belum keluar, kalo bokapnya indah pasti udah keluar trus langsung tidur, dasar egois banget”
Ternyata Bu Indah selama ini jarang mendapat kepuasan dari suaminyaSekarang giliran Ibu yang kamu puasin Rio sekarang kamu tidur.Aku agak bingung apa maunya Bu indah namun aku menurut saja. Dan aku barbaring diatas ranjang kemudian Bu indah jongkok diatas diatas dadaku.” Rio Ibu juga mau perkosa mulut kamu ya”Dia pun mendekatkan vaginanya kemulutku dan mulai memompanya.Aku pun menjulurkan lidah ku, asin, ternyata cairanya Bu indah banyak banget keluarKini tangannya berpegang ke tepi ranjang sehingga agak nungging dan terus memperkosa mulutku bahkan hidung ku, aroma harum dari vaginanya membuat gairah ku samakin meningkat.”Lidah kamu enak banget Rio hidung kamu juga..terus Rio, nikmat” Bu indah terus memompa vaginanya kearah mulutku sehingga terkadang aku kesulitan bernafas.Akhirnya Bu indah berhenti karena terlihat cape sekali.Aku pun membaringkan Bu indah dan mengangkangkan kakinya, ku jilati klitorisnya dan sesekali kugigit pelan-pelan.Ouch…nikmat banget Rio terus Rio, hisap terus vaginaku Rio, terus Rio, vagina itu milik kamu sekarang.
Aku pun menjilatnya nya dan kemudian ku masukkan jari ku kadalam vaginanya dan Bu indah pun menggelinjang keenakanOuch..jari kamu enak banget Rio apalagi ****** kamu.terus Rio.Tak lama kemudian Bu indah menjepit kepalaku dan menjambak rambutku dan aku pun mempercepat permainan fucking finger ku divaginanya..”Shh,uhf…Ibu mau keluar Rio hisap yang kuat Rio vagina Ibu.,ohh……”Akupun menghisap kuat kuat lubang kenikmatan itu dan “cret..Cret..”Cairan nikmat Bu indah menyemprot mulutku dan aku pun menjilatnya sampai bersih.
Gila kamu Rio mulut kamu pintar banget memberikan kenikmatan di vagina Ibu.Aku pun kembali berjongkok di atas kepala Bu indah dan kembali ku entot mulutnya Bu indah..
Bu indah pun menghisap dengan kuat kontolku..aku membalikkan badanku sehingga posisi kami sekarang 69, aku menahan badanku dengan lutut dan terus memompa mulut Bu indah sementara memek Bu indah kembali basah dan aku terus mengelus elusnya.

Serasa nikmat sekali mulut Bu indah, aku pun memompanya semakin beringas dan kemudian Bu indah nampak tersedak kemudian dia melepaskan ****** ku.”besar banget ****** mu Rio kaya mau robek mulut ku..” Aku pun memperbaiki posisiku dan dan kini kami sama sama berbaring..Kulumat bibir bi indah yang nampak merah akibat ku entot tadi dan tanganku memainkan klitorisnya..
“Shh..uhf.. nikmat banget Rio..entot Ibu sekarang Rio..masukin kontolmu ke memek Ibu..cepet Rio Ibu udah ga tahan nih..gatel banget rasanya.”Bi Indah pun kusuruh mengangkang dan mengangkat kakinya kedepan hingga terlipat menyentuh toketnya..
Kini bibir vagina Bu Indah muncul keluar dan menganga seakan berteriak minta dientot. Aku pun mengarahkan kontolku ke vagina Bu indah dan mulai menggesek-gesekannya..
Rio masukin dong..cepet Rio..Ibu udah pengen banget…ayo donk sayang..Ibu Indah pun merengek seperti anak kecil.. Aku pun menancapkan kontolku dengan cepat masuk kedalam vagina Bu indah yang sudah licin mengkilau.
“Ouhhhh…sakit banget Rio..****** kamu gede banget.pelan-pelan dong” “Tapi enak Rio trus Rio pompa terus memek Ibu Rio, entot terus memek Ibu…”Ternyata memek Bu Indah masih sempit dan enak banget kontolku serasa dipilin-pilin. Aku pun memompa terus vagina Bu indah…semakin lama semakin cepat..
“Ouh..terus Rio aku ga tahan nih..Ibu mau keluar..””Terus Rio.entot terus memek Ibu Rio..memek itu punya kamu sekarang Rio..ouh…” Bu indah mulai meracau tidak karuanDan kemudian tubuh Bu Indah mengejang dan kontolku terasa dijepit kuat sekali..”Ouh..Ibu keluar lagi Rio..****** kamuuuuu eeeenaaaaak baaaangeeeeeetsssss,”Aku pun membalikkan badan Bu indah dan ternyata Bu indah langsung mengerti apa mauku dan dia pun langsung menungging dan kini kami dogy style..aku pun memasukkan kontolku kedalam memek Bu indah.. “Ouhh..nikmat banget Rio..”Aku terus memompa memek Bu indah sambil meremas-remas toket Bu Indah yang bergelantungan..
Ouh..ahh..terus Rio, Ibu mau keluar lagi nih. Aku pun mengocok memek Bu Indah dengan cepat sehingga Bu Indah keluar untuk yang ketiga kalinya..
Kamu kuat banget Rio, Ibu bener-bener puas di entot sama kamu..
Sekarang kamu entotin mulut Ibu aja yang soalnya Ibu paling seneng kalo mulut Ibu di entot. Gila ni Ibu ternyata dia seneng banget oral..
Aku pun menarik Bu Indah kelantai dan kusuruh jongkok, dan kemudian kumasukkan kontolku kedalam mulut Bu indah pelan pelan sampai amblas semua, ujung kontolku terasa menyentuh tenggorokannya, aku pun menahan kepala Bu indah karena nikmat sekali terasa, ada kenikmatan tersendiri yang muncul ketika kontolku masuk semua kemulutnya Bu Indah. Kemudian Bu Indah memukul pahaku karena kayanya dia mulai sulit bernafas namun aku tetap menahan kepalanya sehingga akhirnya dia dengan paksa menarik kepalanya dan langsung lari kekamar mandi di samping kami dan langsung muntah. Aku pun mengikuti kekamar mandi.
“Gila kamu Rio kontolmu gede banget”. “Sory ya Ibu muntah abis ga tahan kamu jejelin ****** sebesar itu” Ibu Indah pun menyiram muntahnya..
Kini Bu Indah jongkok kembali di kamar mandi dan mengulum kontolku. Aku pun memompanya secara berirama dan tangan Bu indah terus memainkan biji pelirku, air ludah Bu indah menetes keluar melalui sela-sela bibirnya dan aku tidak peduli, aku terus memompa mulut Bu indah yang seksi sampai kontolku masuk semua dan nampaknya Bu Indah sudan mulai terbiasa dengan kontolku sehingga rasanya semakin nikmat, kontolku serasa mau ditelan oleh Bu indah.Aku pun menyalakan shower dan menyiram Bu indah yang terus asyik mengulum kontolku, kini tuBuh Bu indah basah dan terlihat semakin seksi.
Aku pun menaruh kembali shower itu, dan melanjutkan memompa mulut Bu indah.”Hisap Bu aku udah mau keluar nih..”
Aku pun memompa mulut Bu indah semakin cepat dan Bu indah sangat menikmatinya… Aku keluar Bu..ouh…. ooouuuuugghhhhhhttttt……….Aku pun memasukkan semua kontolku kedalam mulut Bu indah dan menyemprotkan sperma di tenggorokkannya, kemudian Bu indah menarik kepalanya dan membersihkan sperma dari kontolku,,”sperma kamu enak banget Rio, kental..””dia terus mengulum kontolku yang masih berdiri tegak..””****** kamu masih berdiri Rio..kamu kuat banget,,”Kita mandi dulu yu..ntar lanjutin lagi ya.. Kami pun mandi sama-sama..
Selesai mandi Bu Indah ngajak makan, kami ke ruang makan sambil tetap telanjang..aku pun duduk sambil makan sementara Bu indah tidak makan dia hanya duduk disampingku sambil mengelus-elus ****** ku.
“kok ga makan Bu?” tanyaku..”nggak ah,,udah kenyang tadi minum sperma kamu..”
Aku pun makan sedikit karena birahi ku bangkit kembali.”Ibu kok seneng banget oral seks sih””soalnya kalo oral seks Ibu bisa rasain kontolmu yang enak banget”
Kami pun melanjutkan birahi kami di ruang makan dan kemudian pindah keruang tamu dan akhirnya kami kembali kekamar dan bercinta kembali sampai subuh………….
Hubunganku sama Bu Indah sangat hot, bahkan lebih hot daripada sama whiena bahkan kami pernah ngentot di kamar mandi kampus…… tapi ku tetep sayang sama whiena.
Sekarang Bu Indah sudah pindah ke kota “Y”. Karena suaminya pindah tugas. Dan semenjak itu ku juga kehilangan kabarnya whiena
17.33 | 0 komentar

Ngentot dengan Arini Ibu mertuaku

Kenalkan, aku Panji Anugerah (nama samaran). Seorang pria berusia 37 tahun, menikah, dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku dikaruniai Tuhan 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan makmur, walapun kami tidak hidup berlimpah materi.
Boleh dibilang sejak SMA aku adalah pria idaman wanita. Bukan karena fisikku yang atletis ini saja, tapi juga karena kemampuanku yang hebat (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku). Bedanya waktu di SMA dahulu, aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti seks dan wanita, karena saat itu konsenterasiku lebih terfokus pada masalah akademisku.

ARINI MERTUAKU

Bakat playboyku mulai muncul setelah aku menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag bagian pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di otakku. Apalagi aku juga hobi menonton film-film biru.
Wanita lain yang sempat hadir dihatiku adalah Maya. Dia adalah rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin hubungan gelap setahun setelah aku menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami tidak sampai melakukan hal-hal yang menjurus kepada aktivitas seksual. Hubungan kami hanya berlangsung selama 6 bulan, karena dia pindah ke lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur sudah. Padahal aku sudah berniat menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, karena di tahun yang sama aku berkenalan dengan seorang teman yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.
Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga fitness, bukanlah suatu trend seperti sekarang. Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang. Sejujurnya aku malas berbodybuilding seperti yang dilakukan temanku itu. Apalagi saat itu sedang panas-panasnya isu politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja cukup kuat bertahan badai akibat krismon, hingga aku tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu terus memotivasiku, hingga tak sampai 3 bulan, aku yang tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-walaupun aku bertubuh atletis, menjadi seorang atlet bodybuilding baru yang cukup berprestasi di kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional. Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka ”kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard baru” suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.
Semakin berlalunya waktu, aktivitas bodybuilderku kukurangi. Apalagi aku sudah diangkat menjadi kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku agar tetap bugar dan prima, aku tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali seminggu aku pergi ke tempat fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun tidak sebagus ketika aku menjadi atlet bodybuilding dadakan.
Sewaktu aku menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan. Tapi karena saat itu aku sedang asyik menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka menggodaku adalah Mia. Dia adalah puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan dia akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota Bandung. Gadis itu suka menggoda di setiap mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi pikiranku saat aku menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.
Seperti biasanya, aku bangun pagi. Pagi itu aku bangun pukul 04.30 pagi. Setelah cuci muka, aku mulai berganti pakaian. Aku akan melakukan olahraga pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging keliling kompleks perumahanku. Dengan cuek aku memakai baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya di tubuh machoku ini. Kemudian aku mengenakan celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang seperti dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi mewujudkan impianku, menggoda Mia dengan keindahan tubuhku. Menurut kabar, dia juga suka jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran. Dia seperti layangan yang diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.
Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku, membuat tubuh kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal aku sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu aku baru sadar, aku bangun terlalu pagi. Padahal biasanya aku jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa aku balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun saat aku bangun, tidak terdengar komentar istriku karena dia sedang terlelap tidur setelah semalaman dia menemani anakku bermain playstation. Saat aku berjalan ke arah dapur untuk minum, aku melihat ibu mertuaku yang seksi itu sedang mandi. Tampaknya dia sudah bangun ketika aku berjogging tadi.
Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit terbuka, hingga aku bisa melihat bagian belakang tubuh molek mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi dan molek, karena dia sangat rajin merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran tubuhnya tidak kalah dengan tubuh wanita muda usia 30-an.
Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin merasakan lubang hangat yang nikmat, basah, dan lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai tegak sempurna ini, kuperhatikan terus aktivitas mandi mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau ruginya, aku pun memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk dia dari belakang, sembari tanganku menggerayang liar di tubuh mulusnya. Meraba mulai dari leher sampai kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi setelah tahu aku yang masuk, wajah cantiknya langsung tersenyum nakal.
”Panji, nakal kamu” katanya sambil balas memelukku. Dia berbalik, langsung mencium mulutku. Tak lama kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas tubuh masing-masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku hingga aku sudah bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang, besar, dan gagah.
Kami pun melakukan pemanasan sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah sampai pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jika batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu dia berbisik mesra,
”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama” katanya nakal.
Aku bingung mendengar ucapannya, tapi kubiarkan aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat. Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu. Dia langsung berdiri. Melihat itu, aku pun protes,
”Lho, bu, aku khan belum keluar?” suaraku parau, penuh birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk” katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?” suaraku masih saja parau, karena birahi.
”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah kamu jogging tadi, dia ada tugas ke Jawa” sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku disuruhnya telentang di ranjang, sementara dia mengelap sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu dia melakukan hal yang sama padaku. Setelah itu dia langsung saja mengambil posisi 69, mulai mengoral batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangkit kembali. Kali ini aku bertekad akan membuat mertuaku keluar sampai tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di pagi ini akan ketahuan istriku, tapi persetanlah…que sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.
Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah membengkak karena rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar daerah kemaluannya. Gabungan remasan jari, kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. ”Aaaaahhhh…. panji sayang ….” jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang tersisa.
Akupun tersenyum, lalu aku merubah posisiku. Tanpa memberikan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi dia dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya program jamu khusus organ tubuh wanita yang dia minum berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan nikmat menggesek batangku saat keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, aku mempermainkan buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan mulut dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat, kugigit, sampai payudara itu kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu, sementara tangan satunya masih mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu dia meminta istirahat. Aku sebenarnya malas mengabulkan permintaannya itu, karena aku sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak. Namun akhirnya aku mengalah.
”Panji kamu hebat banget deh, kamu sanggup membuat ibu keluar sampai empat kali” puji ibu mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kamu sudah jogging 45 menit, tapi kamu masih saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” aku berkata yang sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.
Lalu kami bercakap-cakap seperti biasanya. Sambil bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku nakal bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir dia kembali mempermainkan batangku yang sudah mengerut ukurannya.
Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu mertuaku memandangku heran, dikiranya aku akan keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi kutenangkan dia sambil berkata, ”Sebentar bu, aku akan mengecek keadaan dulu”. Aku memang khawatir, aku takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.
Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang lama sayang, aku belum selesai menikmati tubuh ibumu” lalu mengecup pipinya. Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, aku dan ibu mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal. Sesudahnya aku balik ke kamar istriku, setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku kembali.
Begitulah cerita seksku dengan Ibu mertuaku di suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku yang molek dan menggairahkan.
17.30 | 0 komentar

Memek-memek ibu-ibu desa ku sodok KONTOL

Ini bukan pengalamnku, tapi pengalaman teman lamaku Mulyana Atmaja Kusuma yang dia kirimkan padaku, ya daripada nganggur mending aku publish aja kan?hhhaa… Ah pokoknya mending dilihat aja nih, moga aja berguna buat smuanya,,,,, Tinggal di desa terpencil memang gak selamanya membuat bosan dan bete, soalnya d dsa itu ada bnyak kelebihan disamping tempatnya yang sejuk n alami, juga orang2nya itu brsahaja banget, saling menghormati n mneghargai antar sesama, serta saling memberi ( dan memperbolehkan mencicipi istri2 mereka ). Namaku Yana, seorang dokter muda yang tengah memulai karir dari awal banget, yaitu mencoba membuka praktek kecil di sbuah desa yang masih terbelakang.
BU EEN
Tepatnya desa Cirengkek di daerah sukabumi jawa barat. Disanalah aku mulai mengembangkan karir dan masa depanku, juga mengembangkan kemampuan SEKS ku. Di desa ini memang belum ada fasilitas kesehatan seperti puskesmas, apalagi ada nya dokter yang praktek, sehingga kehadiranku disambut sangat baik oleh warga setempat. Baru satu bulan aku praktek,sudah sangat terasa sekali bahwa masyarakat cirengkek memang sangat membutuhkan kehadiran dokter seperti aku, apalagi kaum wanita nya. Oke singkat aja, cerita ini bermula ketika aku sedang membereskan semua peralatan karena hari itu sepi pendatang, mungkin karena cuaca memang hujan deras. Tiba-tiba seorang wanita dari jauh terlihat menghampiri, ternyata dia adalah bu Een, warga rt 2 yang sehari-hari mebantu suaminya d warungnya. Dia mendekatiku dan bertanya “udah mau tutu ya pak dokter?” Aku memeang sudah mau menutup, tapi mau bagaimana, aku adalah dokter yang punya kewajiban melayani orang yang sakit, apalagi dia sudah jauh-jauh dating dari rt sebelah, juga dari penampilannya kelihatan kalo dia hamil. “iya udah bu, tapi kalo ibu ada keperluan ya silakan bu, masih dibuka kok.” Jawabku “emang ga apa-apa dokter, ntar ngerepoton nih?” sambil senyum “ga apa-apa kok bu, ini emang kewajiban saya bu!” sahutku. Sejenak aku pandangi wajahnya memang cukup cantik, umurnya kira-kira 35an, dan dia tengah hamil muda, sekitar 4 bulanan. Akupun mempersilahkannya masuk dan langsung melayaninya sbagai dokter kepada pasiennya. Tidak lama kemudian aku menyuruhnya berbaring untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bu Een ini memang selain ingin mengecek kehamilannya, dia juga ingin menanyakan tentang hubungan seks ketika hamil, soalnya dia takut mengganggu kehamilannya. Akupun menjelaskan bahwa hubungan seks pada usia hamil yang msih muda tidak berpengaruh apa-apa, dia pun menganggukan kepalanya dan tersenyum manis, akupun membalas senyumannya. Namun untuk hal kesehatannya, tenyata dia peminum kopi, sehingga ada sedikit gangguan pada rahimnya. “ibu peminum kopi ya?” tanyaku. “iya dok, ibu emang sehari 3x minum kopi, emang kenapa dok?” “ibu mengalami siklus pteresoida, sehinnga berpotensi membuat bayi ibu premature.” Jelasku. Ibu itu kaget dan segera memohon agar aku memberinya solusi, dan akhirnya akupun memberinya saran agar mendapat perawatan yang intensif. Maka dianjurkan agar ibu een disuntik dengan obat penetral seminggu sekali. Ibu een pun bersedia memngikuti perintahku, kebetulan dia adalah istri pemilik warung besar di desa ini. Seminggu kemudian dia dating dan kebetulan hari itu cuaca cerah, dia ditemani suaminya untuk mendapatkan perawatan yang aku sarankan.
BU IDA
Hari pertama kami menjalani dengan baikdan lancar, dan kami lakukan terus menerus secara kontinyu. Sampai pada suatu minggu, entah minggu ke 8 atau ke 9, dia dating tanpa ditemani suaminya dadang karena harus mengatar dagangannya ke pasar. Akupun mulai memberinya perawatan dari mulai melihat keadaan perutnya, sampai pengetesan darahnya. Kebetulan suasananya memang sangat sepi sehingga aku sedikit santai melakukannya. Aku sempat berpikir kalo bu een ini memang cantik juga, matanya yang besar dan bibirnya yang tipis membuatku senang melihatnya, apalagi kalo dilihat dari bentuk tubuh dari atas sampai bawah, terlihat lekukan-lekukan tubuh yang ideal. Wajarlah kalo aku terkagum dan tanpa sadar senyum-senyum meandang wajah bu een sambil menurut perutnya yang halus. Dia pun membalas senyumku sehingga membuat aku malu. “kenapa nih dokter senyum sendiri ga ngajak-ngajak?” tanyanya. “eh nggak bu nggak, maaf ya bu.” Jawabku malu. Dia hanya tertawa kecil dan akupun hanya tersenyum saja. Akhirnya aku memintanya untuk berbalik agar aku bias menyuntik pantatnya. Entah kenapa melihat pantatnya yang sintal itu, penisku langsung berdiri tegak, padahal aku adalah dokter yang seharusnya tidak memiliki rasa apalagi niat yang macam-macam terhadpa pasiennya. Tapi mau bagaimana lagi, amanya juga manusia ya wajarlah kalo melihat pantat wanita yang sintal dan mulus, pasti burungnya akan berdiri. Bebeapa menit kemudian aku mengambil jarum suntik, dan kembali menghampiri bu een yang bebrbalik dengan posisi pantat yang jelas terlihat di hadapanku. Pikiranku kacau, aku sangat terpesona sekaligus tergoda ole keindahan pantat itu. “kenapa dokter, kok lama?” Tanya bu een mengagetkanku. “oh iya iay bu sebentar.”jawabku kikuk Akupun nekad untuk menyurunya membuka lebih lebar celananya sehingga semakin jelas dan terbuka lebar liang vaginanya yangterlihat dari belakang. Diapun menuruti saja apapun yang aku perintahkan. Akupun semakin tergoda dan tak tahan ingin menyuntik lubang anus itu. Kemudian selagi bu een terus melebarkan bukaan celananya, aku pun membuka risleting celanaku beserta cd-nya sehinnga penisku bebas berdiri keluar dan aku arahkan menuju liang anus bu een yang dari tadi menggodaku. Setelah beberapa lama kemudian akupun mengusap pantatnta dan membukanya sehinnga lubangnya sedikit terbuak, dan lagsung saja aku suntikan penisku ke lubang anusnya yang rapat itu. “AHHHHHH……..” teriaknya Akupun memeluknya dan berbisik “tenang bu, ini adalah suntikan terbaik sebagai obat buat ibu.” Dia hanya mengerang dan menahan nafasnya kuat-kuat. Akupun terus memeluknya dari belakang seraya menggesekan penisku yang tak kunjung masuk ke anusnya yang indah itu. Kemudian beberapa saat dia berontak dan mulai sadar kalau yang aku suntikan itu bukan jarum biasa. “Dokteee…rrrr!!!” desahnya “ya bu kenapa bu, ada apa bu?” tanyaku seakan-akan aku tidak melakukan apa-apa. “sakit dok sakit, jangan kesana! Sahutnya. Aku pun berpikir memang sakit juga, apalagi dia. Lalu aku menghentikan penisku yang terus mendobrak lobang anusnya, dan memeluk bu een. “maafin saya bu,!” kataku sambil aku belai rambutnya dan sesekali aku cium dan jilati lehernya. Rupanya bu een belum sadar dengan apa yang dia alami saat itu. Dia hanya mengerang sampai akhirnya dia bersuara. “apa-apaan ini dok?” Aku tidak menjawab tapi terus menciumi lehernya, dan aku juga meremas payudaranya yang kencang itu. “ah dok jangan dok, aku sedang hamil tua dan aku juga sudah bersuami!” rintihnya “memang suami kamu dimana sekarang? Ga ada disini kan, akulah sekarang suami kamu!” sahutku Dia hanya terdiam saja, mungkin karena telah meraskan hasrat yang mulai timbul akibat perlakuanku ini. Aku pun mulai menciumi bibirnya biarpun memang sedikit ada perlawanan, tapi lama-kelamaan dia mulai mengedorkan perlawanannya dan mulai mebiarkanku leluasa menikmati wajah da lehernya. Sementara itu, tangan kananku memegang dan meremas pantat montoknya. Akupun mulai liar dan membuka baju yang dikenakannya, dan ternyata bukannya dia melawan tapi malah mebantuku mebuka bajunya sendiri. “sini biar teteh yang buka!” katanya sambil tetap memejamkan matanya Akupun senang dengan hal itu, dan meneruskan penjelajahanku di tanah kenikmatan itu hingga akhirnya terbuka lah semua pakaian yang dikenakannya dan hanya tersisa BH nya saja. “teh aku bukain bh teteh ya, tapi teteh bukain dong celananya ya!” pintaku Dia hanya mengangguk dan ternyata dia pun mau melakukan perinthaku. Akhirnya belahan dada nya terlihat jelas dan sangat indah. Akupun langsung menciumi dan menydot putingnya yang berwarna merah itu. Dia hanya bias medesah dan sibuk mebuka celananya, sementara bibir dan tanganku bahkan pahaku aktif bergerak mengenai apapun pada tubuh bu een itu. Tiba-tiba terdengar desahan,,, “dok udah nih dok!” kata een. “oh iya saying, udah ya, sekarang buka dong cd km sekalian!” jawabku. Dan diapun melakukannya seakan-akan dia seperti dihipnotis olehku. Akupun mulai membuka semua pakaianku dari atas sampai bawah sampai akhirnya aku telanjang bebas, begitu pula een yang telah lebih dulu. “en buka dong matanya!” suruhku. “nggak dok, aku malu.” Jawabnya “malu tapi mau ka?” tnyaku Dia hanya tersenyum dan mulai membukakan matanya, dan melihat sekelilingnya dengan penuh keheranan. Kemudian dia pun memelukku dan berkata.. “oh dok, jangan kasih tau suamiku ya dok!” dia memohon “kan aku suamimu kalo kamu sendirian!” jawabku Dia pun tersenyum lega dan mulai berani memainkan tangannya pada tubuhku dan penisku, sesekali dia menciumiku dengan penuh nafsu. “dok kenapa tadi gak langsung ke memek aku, kan sakit kalau ke anus mah dok!” “habis, pantat kamu indah banget, ya maaf ya saying, tapi kan sekarang gak sakit lagi kan?jawabku. “ahh,,,enakkk” jawabnya Kami pun saling bercumbu selama hamper setengah jam, dan akupun mulai mengarahkan penisku ke vagina een yang dari tadi sudah basah, Uhhh ahhh suara desahan kami aling bersahutan…. Padahal een tengah hamil tua, tapi tetap aja dia lincah. Hamper 20 menit vaginanya aku suntik, nikmat sekali rasanya mengentot orang yang sedang hamil. Itu, disamping vaginanya yang hangat, juga hasratnya pun lebih dari biasanya. Beberapa saat kemudian terasa ada yang hangat pada penisku dan ternyata een orgasme lbh dulu dan selang 10 menit baru akulah yang orgasme. Aku semburkan lahar panas itu kedalam perut hamilnya een. Sungguh nikmat rasanya menikmati vagina istri orang lain, apalagi dia tengah hamil. “dok, aku cape dok, aku pengen istirahat” “y udah kamu nginep aja disini, lagian udah malem dan hujan deras lagi.!” Pintaku “y udah aku mau nelpon suamiku buat minta ijin.” Sahutnya Lalu dia pun menelpon suamninya dan minta ijin menginap di rumah temannya. Suaminya pun tanpa curiga langsung mengijinkannya. Kemudian kami istirahat sejenak dan saedikit tertawa bahagia.sejam kemudian een mandi, dan akupun ikut dengannya mandi bersama.
BU MIMIN
Di kamar mandi, penisku yang mengeras membuat een tersenyum mebuat kami kembali melakukan hubungan seks lagi. Kali ini hany setengah jam dan kami pun makan malam. Sebelum kami tidur, kami sempat sekali saling menukarkan cairan kenikmtan. Sungguh hari yang meleahkan karena 3x melayani seorang ibu muda yang tengah hamil tua. Keesokan harinya aku terbangun dan tidak melihat een disampingku. Rupanya dia tengah mempersiakan hidangan makan pagi di dapur. Aku yang hanya menggunakan cd pun menghampiri een yang tengah sibuk. Kemudian aku peluk dia dari belakang dan aku gesekkan penisku ke belahan pantatnya. Dia tertawa bahagia. Aku memangkunya keluar menuju taman di belakang rumahku, kemudian aku dudukan dia diatas kursi bamboo dan hadapkan penisku ke wajahnya. Dia pun langsung mengerti keinginanku dan membuka cd ku lalu menciumi dan mngemut serta mengulum peinsku. Beberapa lama kemudian aku menghentikan pekerjjaanya dan beranjak menuju kamar mandi. Tidak lama kemudian terdengar suara orang yang mengetuk pintu. Dan ketika kubuka ternyata een yang tanpa sehelai benangpun berdiri didepan pintu. “apa en?”tanyaku heran “aku pengen vaginaku dijilatin lagi!” jawabnya meminta Akupun tersenyum saja sambil merangkul tangannya dan mengewenya kembali d kamar mandi. Begitulah kajadian yang kualami dengan een seperti pasanagn suami istri. Siangnya een pulang denagn wajah berbunga-bunga. Dan kami pun kadang-kadang suka melakukan kembali hubungan seks kami terus menerus kedepannya. Kadang dirumahku, kadang di rumah een. Namun hubunganku bukan dengan een saja. Bahkan istri lurah dan istri ustad pun berhasil aku jajal kehormatannya. Bu Mimin adalah wanita yang sangat dihargai Karen suami nya adalah lurah yang telah emnjabat cukup lama di desa kami. Usianya sekitar 40 tahunan, badannya tinggi besar. Sore itu dia hendak disuntuk kb, aku lagi-lagi tergoda oleh pantat yang montok dan mulus. Tadinya aku mau malakukan taktik seperti pada een, tp sayangnya bu mimin ini orangnya gampang akrab dan suka ngobrol. Sehinnga aku ga bisa sempat menusuknya dari belakang. Tapi dewi cinta memang memayungi aku, entah kenapa kami bisa ngobrol membahas mengenai hubungan intim yang gagal dan sebagainya. Dan entah kenapa aku juga bisa member saran tentang hubungan seks. “aku punya obat yang manjur buat menjadikan suami ibu kuat.”kataku “buakan suami ibu, tapi itu nya suami ibu!” jawab nya “apanya sih bu?” tanyku menggoda. “ah kamu juga punya kan?” “yang mana bu, kasih tau dong?”godaku lagi “ah kamu ini pura-pura, padahal kamu Cuma menggoda ibu aja kan?” tanyanya “emang, emang saya menggoda ibu!” jawabku “menggoda buat apa?” Tanya bu mimin heran Kemudian aku menghampirinya dan membuka celana hingga terlihat penisku dan kemudian aku kocokkan di depan bu lurah montok itu seraya berkata “buat menawarkan kenikmatan sesame antara kita berdua" Ibu lurah itu hanya terdiam heran dengan omonganku itu, sampai akhirnya aku menghampirinya dan memegang tangannya, kemudian mengarahkannya ke penisku yang berdiri gagah. ‘bu kocokkin dong,!” pintaku Kemudian ibu lurah itu menggenggam penisku dengan keras dan mengocokkannya. “kamu ini gila ya, ayo cepet entotin ibu!” serunya… Lagi- lagi aku mengentot wanita yang lebih tua dan suadah bersuami. Kami melakukan hubungan seks kami tidak selama dengan een, cumin 25 menit, tapi cukup membuat ibu lurah itu ketagihan sehingga sampai beberapa kali kami melakukannya. Bu Mimin, ya dia memang wanita istimewa di desa ini, disamping dia seorang istri lurah, dia juga mentan seorang ronggeng. Pantas saja sewaktu aku memperlihatkan penisku, dia tidak marah, bahkan malupun tidak. Dia malah merespon dan memberi sinyakl kalau dia juga mau-mau aja mengikuti perlakuanku. Beberapa hari setelah aku menikmati permainannya yang manis n menakjubkan, hari-hariku berjalan mulus seperti biasa, tidak ada perubahan apapun dalam kehidupanku. Malah praktekku semakin berjalan maju. Siang itu hari sangat cerah dan tamu yang datang untuk memeriksakan dirinya pun cukup banyk. Salah satu diantara mereka adalah Firda, atau orang biasa memanggilnya Ida. Wanita sholehah berumur 35 tahun ( seusia dengan Een yang pertama kali aku setubuhi ) yang tiap harinya berbusana tertutup, karena pakaian sehari-harinya baju kurung dari atas ke bawah desertai akerudung yang panjang dan lebar. Tidak Cuma itu, dia juga mengenakan cadar sehinnga aku sulit mengenal wajahnya. Dia hendak memeriksakan anaknya yang sakit flu. Ida memang jarang bicara, namun ketika dia hendak menumpang ke kamar mandi di rumahku, aku sengaja mengaktifkan kamera tersembunyi agar bisa memantau para pasien yang menurutku wajib diintip. Ternyata dia tengah mengalamni datang bulan dan dia hendak mengganti oembalutnya. Ketika dia mengganti pembalutnya, dia membuka seluruh pakaiannya terkecuali cd dan bra nya. Dan luar biasa, ternyata dia peranakan arab, terlihat hidung dan matanya yang khas orang arab, diasangat cantik apalagi didukung oleh bentuk tubuh yang seksi dan montok.mebuatku berpikir mencari cara untukbisa mencicipi tubuhnya. Akhirnya aku dapat ide yaitu dengan mengancamnya dengan rekaman yang aku buat saat dia mengganti pembalutnya itu. Makanya sehabis aku memeriksakan anaknya itu, aku meminta nomor hapenya dengan alasan agar mudah untuk menghubunginya tentang penyakit ankanya itu. Dia pun langsung memberikan nomornya tanpa ragu. Malamnya aku memikirkan bagaimana rasanya menindih tubuh sinta Bu Ida yang sintal dan menciumi bibirnya yang waahhh mantaplah. Akupun iseng ngemiscall nomornya. Ternya dia pun mengirimkan sms yang berisi “ assalamualaikum, maaf ini dengan siapa ada keperluan apa?” Akupun langsung membalasnya “saya ada kepentinagan dengan Ibu Ida!” “ini saya sendiri” balasnya “ saya dokter Yana dana ada hal yang perlu saya sampaikan sama ibiu, tapi tidak bisa di telpon, harap ibu datang besok pagi di tempat praktek saya!” isi smsku “iya insyaAlloh saya datang, terima kasih.” Esoknya aku senagaja memasang tulisan tutup pada jendela depan rumahku, agar tidak ada orang yang datang untuk berobat. Ya antisipasi dengan harapan ida akan datang. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, orang yang dinanti pun datang. Aku sempet deg-degan dengan rencanaku untuk mengancamnya. “asalamualaikum pak doter, ada apa ya?” tanyanya “waalaikum salam ibu ida, silakan masuk!” jawabku. “disini saja pak” katanya. “ga apa-apa bu, soalnya ini agak penting” Akhirnya dia dengan sedikit penasaran masuk kerumahku. Tanpa panjang lebar aku langsung menyalakan video, dan sepertinya ida merasa heran karean aku menyalakan video itu. “ibu jangan marah ya bu” kataku Ida pun heran dan hanya diam menunggu apa yang akan aku lakukan. Video pun nyala dan mulai memainkan rekaman. Ida pun kaget melihat video rekamannya saat mengganti pembalutnya. “pak dokter apa-apan ini?”tanyanya “ibu ga mau kan kalu video ini aku sebarin?” gertakku “nggak pak, jangan, kemarikan rekamannya!” pintanya. “boleh bu, boleh, tapi ada syaratnya. Gimana?” tanyaku kembali “apa?” tanya ida heran. “saya ingin tidur malam ini dengan ibu ida!” jawabku Dia kaget dan menyentak. “apa!!! Tidak, apa-apan ini, kurang ajar banget kamu sama saya!” “lebih kurang ajar mana jika video ini menyebar?” Dia pun hanya termenung dan sedikit meneteskan airmatanya. Akupun sebenarnya merasa iba, tapi mau bagaimana lagi, hasratku untuk meniduri kemontokkan bu ida udah di ujung tanduk. Kemudian tidak lama kemudian, dia berkata. “nggak pak, jangan itu, apapun saya lakukan asal jangan itu!” pintanya memelas. Akupun mendekatinya dan berkata “bu, sekali ini saja” “tapi aku udah bersuami” jawabnya tegas Akupun memegang tangannya, dia mencoba melepaskannya, tapi aku terus memegang erat. “bagaimana bu?” tanyaku lagi Dia hanya diam dan akupun menyuruhnya datang malam ini dan memperbolehkannya pulang. Malamnya, sekitar pukul 8 aku mendengar suara orang mengetuk pintu. Ternyata bu Ida, akupun langsung menyuruhnya masuk. “pak, aku mohon jngan ya pak!” dia pun masih memelasa agar aku membatalkan niatku itu. Aku tidak menghiraukan omongannya da langsung meraih tangannya membawanya masuk ke kamarku. Dia beralasan menginap di rumah orang tuanya. Akupun memberinya sepasang pkaian berupa celana dalam g-string, bra transparan, gaun tipis berwarna ungu, sepatu boot jangkung. Aku menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya denagn pakaian yang aku sediakan. Dia pun sempat ragu walau akhirnya mau menuruti mauku. Beberapa saat kemudia dia keluar dengan mengenakan busana pemberianku. Luar biasa, dia terlihat menawa sekali, seksi dan menggairahkan. Akuun langsung menhampirinya dan meraih tangannya. “jangan pak jangan!” katanya sambil mencoba berontak “ga apa-apa bu pelan-pelan saja” jawabku Dia hanya terdiam saat aku memnyentuh pahanya yang putih mulus. Kemudian aku menyalakan musik dan menyuruhnya menari menghiburku. “saya nggak bisa nari pak>” Tapi aku paksa hingga akhirnya dia menari dan membuat penisku makin berdiri tegang 110 volt. Akupun mulai membuka pakaianku dan menyisakan cd saja. Ida sempat memandangi penisku yang besar dibalik cd ku. “sini sayang, datanglah padaku” rayuku Setelah dia medekat, aku peluk dan ciumi bibir dan wajahnya. Dia hanya diam dan sedikit bergetar tubuhnya. Akupun mulai melorotkan cd g-stringnya itu, kemudian aku gesekkn penisku ke viaginanya yang bersih tanpa bulu itu. “pak jangan pak, aku udah bersuami pak!” dia masih saja memelas “udah dong mah, nikmati aja” jawabku “ahhhhhhhhh” dia pun mengerang ketika aku kenakan kepala penisku ke lubang memeknya. Diapun memelukku erat-erat, dan akupun membalasnya penuh senang. Akupn terus menggesekkan penisku sambil tangan kiriku megelus punggunya yang halus. Aku terus ciumi lehernya hingga basah. Ida hanya diam saja menikamti permainanku ini. “mas, buka aja mas” bisiknya Wah girangnya hatiku mendenagarnya, aku yakin kalau ida udah mulai mnikmati dan udah berani menyuruhku membuka branya. Indah sekali dadanya yang berujung puting merah muda itu. Rupanya dia tengah menysui. “mah, papah minta susunya ya, haus nih!: rayuku dengan memanggilnya mamah “papaahhh!!!” desahnya memberi isarat. Akupun menyedot susu yan ada pada payudaranya, rasanya memang tidak manis, tapi menggairahkan. Beberapa lama kemudian aku mulai memainkan vaginanya, aku masukkan es batu kedalam vaginanya dan serentak dia mengerang. “ahhhhhh” Aku tersenyum saja dan meraih kembali bibirnya. Setelah itu aku berbaring dan menyuruhnya duduk di atasku. Kami sempat berbincang. “papah aduh mamah takut nih!” “takut apa mamah?” tanyaku heran Dia tidak menjawab, malah meraih bibirku dan terus menciumiku penuh hasrat. Sekitar 5 menit kami melakukan ciuman panas itu, dan kemudian aku ubah posisi, ida berbaring dan aku diatas menindihnya. “cepet dong pah!” pintanya Kaupun langsung memenuhi keinginannya dan langsung mengaerahkan penisku ke vaginanya yang basah dan bebrbau sedap itu. Rupanya vaginany sangat sempit dan butuh waktu cukup lama hingga akhirnya penisku masuk seluruhnya ke dalam. Aku kocokkan secara beraturan dan dia hanya mendesah dan sekali-kali mengerang kenikmatan. “ahh uahhh pah terus pah...” Aku hanya tersenyum senang dan terus mengebor liang surga istri ustad itu. “mah pake dulu dong kerudung kamu!” suruhku. Dia pun mau saja dan kini dia ngentot denganku dengan mengenakan jilbab. Semakin bersemangat saja rasanya. “ahhhhh mas arya...tolong mas...ida diewe nih sama dokter gila!!!!” dia berteriak aneh memanggil nama suaminya. Dan itu semakin membuat kami menikmati permainan yang berdurasi kira-kira setengah jam itu. Akupun sudah sampai pada puncak dan siap menyemburkan lahar kenikmatan ku di rahimnya. Hangat sekali rasanya, tapi tugasku belum selesai karena ida belum oragasme. Beberapa menit kemudian dia sampai pada puncaknya dan meyelimuti penisku denagn cairan senggamanya. Kami terdiam sejenak dan saling memandan penuh senyum. “dibandingkan dengan suamimu, bagaimana denagn saya?” tanyaku menggoda. Dia tidak berkata apa-apa hanya memelukku sambil mendesah “aaaahhhh” Kemudian dia membuka kerudungnya dan memakainya untukmengelap sisa air sperma di selangkangannya. Kami sangat bahagia malam itu sampai kami tertidur dan bangun pagi-pagi. Sebelum ida pulan pukul 7 pagi, aku sempat memintanya untuk menyepong penisku selamu 10 menit. Dia terlihat begitu puas dengan kenikmatan yang aku berikan. Dengan demikian sudah 3 wanita yang telah bersuami yang sudah aku dapatkan surganya. Aku akan terus malakukan hal yang sma pada wanita lainnya, apalagi aku udah punya target sama seorang wanita yang jauh lebih tua. Tapi sebelum aku mendapatkannya, ya aku isi waktuku dengan Een, Mimin, dan Ida, mereka selalu jadi istri-istri cadanganku tiap minggu nya. Ya aku kasih jadwal aja.
09.26 | 0 komentar